Amerika Serikat merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, ketika mengalami pelambatan atau bahkan sampai resesi maka negara-negara lain akan ikut terseret

Inflasi di Amerika Serikat (AS) kembali melesat di bulan Maret 2022, semakin menguatkan peluang The Fed (bank sentral AS) akan menaikkan suku bunga lebih agresif lagi di tahun ini. 

Namun, langkah The Fed tersebut diperkirakan akan membuat perekonomian AS kembali mengalami resesi. Tidak hanya satu, tetapi banyak ekonom, analis, taipan, hingga mantan pejabat elit The Fed memberikan prediksi yang sama.

Reuters mengadakan survei terhadap lebih dari 100 ekonom pada periode 4-8 April hasilnya perekonomian Amerika Serikat akan mengalami resesi dalam 24 bulan ke depan, dengan probabilitas sebesar 40%.

Sementara survei yang dilakukan Wall Street Journal menunjukkan resesi akan terjadi dalam 12 bulan ke depan dengan probabilitas sebesar 28%.

Inflasi berdasarkan consumer price index (CPI) di Amerika Serikat (AS) kini sudah menembus 8,5% (year-on-year/yoy) di bulan Maret, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 7,9% (yoy). Inflasi tersebut merupakan yang tertinggi sejak Desember 1981.

Sebelumnya Bill Dudley, mantan Presiden The Fed wilayah New York mengatakan melihat inflasi yang berada di level tertinggi 40 tahun, dan langkah The Fed yang agresif menaikkan suku bunga, maka resesi tidak bisa terhindarkan.

Menurut Dudley, ketua The Fed, Jerome Powell terlambat bertindak untuk mengendalikan inflasi pada tahun lalu. The Fed kini disebut tidak akan bisa mencapai "soft landing" atau melandaikan inflasi tanpa membuat perekonomian AS mengalami resesi.

"Penerapan framework The Fed terlambat untuk mengendalikan inflasi. Ini pada akhirnya membuat hard landing tidak bisa dihindari," kata Dudley, sebagaimana diwartakan Fortune, Rabu (30/03/2022).

Sementara itu dari kalangan investor dan triliuner ada Carl Icahn, Jeff Gundlach dan Leon Cooperman yang memprediksi terjadinya resesi.

"Saya pikir kemungkinan terjadinya resesi sangat besar, bahkan bisa lebih buruk lagi," kata Icahn, dalam acara "Closing Bell Overtime" CNBC International, Selasa (22/03/2022).

Indikator resesi yang akurat, yakni inversi yield obligasi (Treasury) tenor 2 tahun dan 10 tahun juga sudah muncul pada 31 Maret lalu.

Dalam situasi normal, yield obligasi jangka pendek akan lebih rendah dari jangka panjang. Tetapi jika investor melihat dalam jangka pendek perekonomian akan memburuk bahkan mengalami resesi, maka premi risiko yang diminta akan lebih tinggi.

Inversi terjadi saat yield obligasi (Treasury) tenor pendek lebih tinggi dari tenor jangka panjang.

Kini inversi antara yield Treasury tenor 2 tahun dan 10 tahun kembali terjadi pada 31 Maret lalu, tepat saat The Fed mulai menaikkan suku bunga.

Kabar buruknya, hampir setiap terjadi inversi, maka Amerika Serikat akan mengalami resesi.

Berdasarkan riset dari The Fed San Francisco yang dirilis 2018 lalu menunjukkan sejak tahun 1955 ketika inversi yield terjadi maka akan diikuti dengan resesi dalam tempo 6 sampai 24 bulan setelahnya. Sepanjang periode tersebut, inversi yield Treasury hanya sekali saja tidak memicu resesi (false signal).

Pada tahun 2018 lalu, The Fed juga agresif menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali. Inversi kemudian muncul di 2019, dan perekonomian AS akhirnya mengalami resesi di 2020 meski penyebab utamanya yakni pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Resesi merupakan hal yang biasa terjadi, Amerika Serikat bahkan sudah berulang kali mengalami resesi.

Suatu negara dikatakan mengalami resesi jika produk domestic bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus dalam 2 kuartal beruntun secara tahunan atau year-on-year (yoy).

Sementara jika PDB minus 2 kuartal beruntun secara kuartalan atau quarter-to-quarter (qtq) disebut sebagai resesi teknikal.

Meski sudah biasa terjadi, tetapi efeknya cukup buruk. PDB seperti disebutkan sebelumnya mengalami penurunan, kemudian pendapatan masyarakat menurun, begitu juga dengan aktivitas manufaktur serta penjualan ritel. Tingkat pengangguran juga akan mengalami kenaikan.

Amerika Serikat merupakan negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia, ketika mengalami pelambatan atau bahkan sampai resesi maka negara-negara lain akan ikut terseret.

Posisi Amerika Serikat juga cukup penting bagi Indonesia, sebab merupakan mitra dagang terbesar kedua setelah China.

Sepanjang 2021, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sebesar US$ 25,8 miliar, yang berkontribusi 11,75% terhadap total ekspor. Ketika resesi terjadi, permintaan dari negara adidaya tersebut tentunya akan menurun.

Tahun 2020 saat AS mengalami resesi, Indonesia juga ikut menyusul. Tetapi faktor utamanya kala itu yakni pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Tidak hanya AS dan Indonesia, banyak negara juga mengalami hal yang sama.

Jika melihat ke belakang, resesi yang dialami AS pada periode 2007 hingga 2009 serta krisis finansial global memang tidak membuat Indonesia mengalami resesi, tetapi cukup membuat produk domestik bruto (PDB) mengalami pelambatan.

Pada kuartal I-2009, PDB Indonesia terjun ke bawah 5% (yoy), dan baru bisa kembali lagi ke atasnya di kuartal IV-2009.

 

CNBC-Indonesia/Reuters