dia membakar Al Quran sambil mengabaikan protes dari massa yang berjumlah sekitar 200 orang.

Aksi Islamofobia membakar Al Quran yang dilakukan Rasmus Paludan, pemimpin Stram Kurs (partai Garis Keras Swedia), memicu kerusuhan di negara Skandinavia tersebut.

Tak lama setelah pembakaran Al Quran oleh politikus anti-Islam itu, kerusuhan pecah di sejumlah wilayah di Swedia selatan.

Politikus bernama Mikail Yuksel mengatakan bahwa provokasi Islamofobia dari Rasmus Paludan di bawah perlindungan polisi terus berlanjut di kota-kota di seluruh Swedia.

Yuksel mengatakan, Paludan secara khusus memilih lingkungan yang padat penduduk muslim dan tempat-tempat dekat masjid untuk melakukan provokasi.

"Di Swedia, yang membela hak asasi manusia, kebebasan beragama dan hati nurani dengan nada tertinggi, Al Quran dibakar di lingkungan muslim di bawah perlindungan polisi," kata Yuksel.

Dia menambahkan bahwa polisi juga menyerukan umat Islam untuk menggunakan akal sehat karena kitab suci mereka dibakar tepat di depan mata mereka.

Diketahui, Rasmus Paludan membakar salinan Al Quran pada Kamis (14/04) di Kota Orebro, daerah berpenduduk muslim di Swedia.

Dilansir dari Anadolu Agency, pada Kamis, Paludan yang didampingi polisi mendatangi ruang publik terbuka lalu meletakkan AlQuran.

Setelah itu, dia membakar Al Quran sambil mengabaikan protes dari massa yang berjumlah sekitar 200 orang.

Massa tidak terima dan mendesak polisi untuk tidak membiarkan Paludan melakukan tindakannya.

Setelah polisi mengabaikan seruan tersebut, insiden pecah dan kelompok massa tersebut menutup jalan dan melempari polisi dengan batu.

Kerusuhan ini membuat empat mobil polisi terbakar dan setidaknya empat polisi luka-luka.