Di tengah kinclongnya bisnis batu bara lantaran harganya begitu tinggi, tersiar kabar kurang mengenakan. Bisnis si emas hitam ini, naga-naganya bakal sulit dapat suntikan modal.

Lho, kok bisa? Ya, lantaran para pemilik modal asing, secara perlahan mulai meninggalkan batu bara. Alasannya apalagi kalau bukan soal lingkungan. Batu bara dianggap salah satu biang kerok emisi karbon terbesar di jagad ini. 

Diakui Feputi bidang Perencanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi, Nurul Ikhwan, banyak negara saat ini memprioritaskan pemanfaatan energi baru terbarukan alias EBT.

Nurul mengatakan, dari segi pemberian pinjaman juga sudah mulai ada yang lebih mengedepankan ke energi terbarukan. "Kita juga tahu bahwa pinjaman-pinjaman dari lembaga keuangan internasional juga sudah mulai menghilangkan porsi pemberian pinjaman untuk pembangkit listrik yang berbasis dari batu bara,” kata Nurul saat acara Indonesia Solar Summit 2022, Selasa (19/4/2022).

Nurul menganggap, kondisi tersebut membuat sudah terbentuk ekosistem dari investasi dan bisnis global yang mengarah ke energi terbarukan. Untuk itu, Indonesia harus terus mendorong penggunaan energi tersebut.

“Semuanya mengarah kepada hal yang sama (EBT) sehingga kita tidak ada cara lain selain dari membangun Indonesia dengan energi yang bersih,” ujar Nurul.

Nurul menjelaskan sebenarnya Indonesia juga serius mengembangkan EBT. Menurutnya, hal tersebut bisa dilihat dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Nasional (RUPTL) di 2021-2030 yaitu PT PLN akan meningkatkan peran pembangkit EBT dari 29,6 persen menjadi 51,6 persen di 2030.