Macron mengaku bahwa banyak yang memilihnya karena hanya ingin agar Le Pen tidak menang.

Calon presiden (capres) petahana Emmanuel Macron mengalahkan kandidat sayap kanan Marine Le Pen dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Perancis putaran kedua pada Minggu (24/04).

Pendukungnya bersorak gembira saat hasil polling yang menunjukkan Macron meraup 58,5 persen suara melalui layar raksasa di taman Champ de Mars dekat Menara Eiffel.

Dalam pidato kemenangannya, Macron mengaku bahwa banyak yang memilihnya karena hanya ingin agar Le Pen tidak menang.

"Banyak orang di negara ini memilih saya bukan karena mereka mendukung ide-ide saya, tetapi untuk menghindari ide-ide sayap kanan," kata Macron.

Macron mengakui kemenangannya bukan 100 persen dari pendukungnya, tapi juga sebagian dari orang-orang yang tidak menghendaki Le Pen menang.

Salah satu kelompok yang tidak menginginkan Le Pen menjadi Presiden adalah warga Muslim. Pernyataan Le Pen yang akan melarang sama sekali perempuan memakai hijab membuat popularitasnya rendah di kalangan pemeluk Islam.

Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh Macron, yang sebenarnya juga bukan calon ideal bagi penduduk Muslim karena melarang hijab di sekolah,

Kebanyakan dari sekitar dan 6 juta Muslim di Prancis memilih Jean-Luc Mélenchon, satu-satunya kandidat yang menolak diskriminasi terhadap muslim, di putaran pertama.

Ketika pemilihan memasuki putaran kedua, banyak yang masih bimbang atau telah memutuskan untuk abstain. Beberapa imam, termasuk kepala masjid agung Paris, mendorong jamaah untuk memilih Macron guna mencegah Le Pen menjadi presiden.

Macron berterima kasih kepada mereka yang memilihnya dan dia memiliki utang budi kepada mereka di tahun-tahun mendatang. "Tidak seorang pun di Perancis akan ditinggalkan di pinggir jalan," tutur Macron.

Dua tahun gangguan akibat pandemi dan lonjakan harga energi yang diperburuk oleh perang Ukraina melambungkan masalah perekonomian menjelang pilpres.

Meningkatnya biaya hidup juga menjadi beban yang meningkat bagi orang-orang termiskin di Negeri Anggur.

Le Pen, yang sempat menempel ketat Macron dalam jajak pendapat, dengan cepat mengakui kekalahannya.

Namun keberhasilan mengumpulkan 41 persen suara merupakan lompatan besar bagi politisi Partai Nasional yang berhaluan kanan ini.

Tetapi, dia bersumpah untuk terus berjuang melalui pemilihan parlemen pada Juni tahun ini.

"Saya tidak akan pernah meninggalkan Prancis,"  ujar Le Pen kepada para pendukung yang meneriakkan namanya.

Le Pen menginginkan aliansi nasionalis dalam sebuah langkah yang meningkatkan prospek dia bekerja dengan saingan sayap kanan seperti Eric Zemmour dan keponakannya, Marion Marechal.

Di Luar Perancis, kemenangan Macron disambut dengan gembira oleh beberapa negara di Eropa yang tidak ingin kandidat sayap kanan memegang kendali di Paris.

Para pemimpin di Berlin, Brussel, London, dan sekitarnya menyambut baik kemenangan Macron atas Le Pen, sebagaimana dilansir Reuters.