fenomena lebarnya gap antara angka kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi dengan Ma'ruf tidak sekali ini saja terjadi.

Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Wakil Presiden Ma'ruf Amin menurun.

Jika pada hasil survei Februari 2022 kepuasannya mencapai 52,9 persen, kali ini hanya berada di angkat 45,2 persen.

"Pak Kiai Ma'ruf itu total hanya 45,2 persen yang sangat puas dan puas, di bawah 50 persen," kata Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi.

Dengan rincian 42,8 persen responden mengaku cukup puas dengan kinerja Ma’ruf Amin dan 2,4 persen lainnya mengatakan sangat puas.

Sementara itu, berdasarkan hasil survei, publik yang kurang puas terhadap kinerja Ma'ruf mencapai 36,0 persen dan tidak puas sama sekali sebanyak 9,4 persen.

"Gap antara kepuasan Pak Jokowi sebagai presiden dengan Pak Kiai Maruf sebagai wapres itu lebar," ucap Burhanuddin.

Tapi, kata Burhanuddin, fenomena lebarnya gap antara angka kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi dengan Ma'ruf tidak sekali ini saja terjadi.

Dalam sejumlah temuan berulang survei, angka kepuasan publik terhadap Jokowi dan Ma'ruf terpaut 15-20 persen.

Bahkan, hal serupa juga terjadi di era pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla.

Lebih lanjut, Burhanuddin mengungkapkan turunnya hasil survei kepuasan publik terhadap Jokowi dan Ma’ruf, juga didasari hal yang berbeda.

Tak seperti Jokowi, yang tingkat kepuasan publiknya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi negara, Ma’ruf, sambung Burhanuddin, tingkat kepuasannya turun karena kinerjanya tidak begitu nampak.

"Saya kira mungkin Pak Kiai Ma'ruf juga melakukan banyak hal, tapi publik tidak tahu apa yang dilakukan oleh Pak Kiai Maruf sebagai wapres. Itu yang menjelaskan kenapa ada gap antara presiden dengan wapres," ujarnya.

"Mungkin sejauh ini publik masih melihat Pak Kiai Ma'ruf belum terlalu kelihatan kiprahnya di publik. Belum kelihatan bukan berarti tidak bekerja lho ya," ujarnya.