Menurut BP Statistics Review, lebih dari seperempat kebutuhan gas dunia dipasok oleh Rusia. Tepatnya sebanyak 26,2 persen dengan jumlah 197,7 miliar meter kubik

Meski digempur berbagai sanksi ekonomi oleh negara-negara barat, tak lantas membuat penjualan minyak mentah, gas serta batu bara produksi Rusia mengalami penurunan.

Sebaliknya, adanya sanksi tersebut justru semakin membuat penjualan migasnya mengalami peningkatan, hingga pemerintah Rusia bisa meraup keuntungan sebesar 66 miliar dolar AS atau setara dengan Rp958 triliun.

Mengutip dari situs Business Insider, keuntungan yang fantastis ini didapatkan Rusia lantaran pembelian migas buatannya masih menjadi primadona bagi sebagian besar negara di dunia, seperti Italia, China, Belanda, Turki, serta Prancis.

Selain negara di atas, bahan energi Rusia juga telah membuat sebagian besar negara di daratan Uni Eropa sulit melepaskan diri dari impor migas Rusia.

Bahkan lembaga riset independen, Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) melaporkan Uni Eropa telah mengimpor 71 persen bahan bakar fosil Rusia melalui pengiriman dan pipa gas.

"Ekspor bahan bakar fosil adalah pendorong utama pembangunan militer Rusia dan agresi brutal terhadap Ukraina," Ujar laporan CREA.

Keberadaan migas Rusia bagi perdagangan global menjadi penting lantaran negara pimpinan Vladimir Putin ini merupakan eksportir migas terbesar di dunia.

Menurut BP Statistics Review, lebih dari seperempat kebutuhan gas dunia dipasok oleh Rusia. Tepatnya sebanyak 26,2 persen dengan jumlah 197,7 miliar meter kubik.

Sementara untuk komoditas minyak mentah, Rusia menjadi eksportir keempat terbesar di dunia, dengan pangsa pasar 11,4 persen.

Tak mau ketinggalan, penjualan batu bara Rusia bahkan ikut menyumbang pasokan dunia hingga mencapai 217 juta ton, pada tahun 2019 silam.

Meski sejauh ini Amerika Serikat (AS), Inggris serta para sekutunya di Uni Eropa telah membekukan aktivitas impor bahan bakar fosil Rusia hingga membuat pendapatan negara Putin ambles 20 persen dalam tiga minggu pertama April 2022, namun ekonomi Rusia telah mampu mengimbangi kerugian ekspor tersebut.

Tak tinggal diam, belakangan Presiden Rusia, Vladimir Putin membuat sanksi balasan ke sejumlah negara yang menolak membayarkan impor minyak dan gasnya dari Rusia menggunakan mata uang Rubel, seperti Polandia dan Bulgaria.

Kedua negara kini tak berkutik impor migasnya diblokir oleh perusahaan migas Rusia, Gazprom.

"Yang disebut mitra dari negara-negara yang tidak bersahabat mengakui bahwa mereka tidak akan dapat hidup tanpa sumber daya energi Rusia, termasuk tanpa gas alam,” tandas Vladimir Putin.