Hal ini berbeda dengan tetangga Negeri Singa, seperti Malaysia, Indonesia, dan Brunei yang merayakan hari lebaran pada Senin (02/05) kemarin

Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah di Singapura jatuh pada hari ini, Selasa (03/05). Hal ini berbeda dengan tetangga Negeri Singa, seperti Malaysia, Indonesia, dan Brunei yang merayakan hari lebaran pada Senin (02/05) kemarin.

Mufti Singapura, Nazirudin Mohd Nasir, pemimpin Islam tertinggi Republik, mengumumkan pada Minggu malam bahwa umat Islam di sana akan merayakan Hari Raya Idul Fitri  pada hari Selasa.

Menurut perhitungan astronomi, hilal pada bulan Syawal setelah Ramadhan tidak muncul pada sore hari setelah terbenamnya matahari pada hari Minggu.

Nazirudin mengatkan, bulan sabit yang secara tradisional menandai awal bulan baru juga tidak terlihat.

Meski demikian, pertanyaan tentang perbedaan tersebut terus ditanyakan di media sosial, mengingat daerah lain menandai festival tersebut pada hari ini.

Dalam keterangannya, Senin pagi, Kantor Mufti menjelaskan bahwa di wilayah ini, perbedaan awal Hijriah atau penanggalan Islam sangat sering terjadi di masa lalu. Yakni pada 2014, 2015, 2016, 2017 dan 2021 yang mungkin terjadi lagi di masa depan.

Dengan demikian, pada tahun 2022, tidak semua negara di dunia, termasuk negara mayoritas Muslim, merayakan Ramadhan dan Idulfitri di tanggal yang sama.

"Memang bulan sabit juga belum terlihat di beberapa negara lain, akibatnya mereka akan merayakan Idul Fitri pada Selasa 3 Mei, seperti Singapura," terang Nasir, kepada wartawan, dikutip dari The Strait Times, Senin (02/05).

Selain Singapura, Bangladesh, India dan Pakistan juga merayakan Hari Raya Idul Fitri pada hari Selasa. Adapun hasil dari pengamatan ini, menurut Mufti Singapura, tidak perlu dipertentangkan lagi.

"Selama kita berpegang teguh pada prinsip-prinsip iman kita dan bimbingan Nabi Muhammad, perbedaan penentuan kalender Islam adalah sesuatu yang tidak terduga atau mengkhawatirkan," imbuhnya.

Kantor Mufti menjelaskan bahwa umat Islam diajarkan bahwa jika bulan dikaburkan, mereka menganggap Ramadhan memiliki 30 hari. Menurut penanggalan Islam, beberapa bulan bisa berlangsung 29 hari dan yang lain 30 hari.

Kriteria ini telah ditinjau dan disempurnakan oleh empat negara sejak 2017, dan direvisi pada 2021, berdasarkan lebih dari 700 titik data penampakan bulan sabit dari seluruh dunia.

Kriteria baru mempertimbangkan dua parameter saat matahari terbenam pada hari ke 29 setiap bulan - ketinggian bulan sabit, yang harus melebihi tiga derajat, dan tingkat pemanjangan matahari dan bulan, yang harus melebihi 6,4 derajat.

"Berdasarkan kriteria tersebut, hilal tidak terlihat di Singapura saat matahari terbenam pada 29 Ramadhan. Untuk konfirmasi, Kantor Mufti bersama para ahli ilmu falak (astronomi) berusaha untuk melakukan penampakan fisik hilal, tetapi tidak berhasil, yaitu hilal tidak terlihat. juga jelas bahwa ufuk barat mendung dengan awan," papar Nasir.

Pernyataan itu mencatat bahwa otoritas agama dari negara-negara MABIMS lainnya melaporkan bulan sabit terlihat dalam penampakan mereka hanya di situs-situs tertentu di wilayah mereka sendiri. "Hasil individu mereka valid dalam konteks masing-masing," katanya.

Pernyataan itu menambahkan bahwa penulis sejarah Muslim awal juga mengakui perbedaan dalam menentukan awal atau akhir Ramadhan di berbagai kota, berdasarkan perbedaan dalam melihat bulan sabit.

Disebutkan bahwa tahun ini, Ramadhan akan berlangsung selama 30 hari untuk komunitas Muslim Singapura, yang harus melanjutkan puasa pada hari Senin.