Sementara itu, Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyinggung kemungkinan varian baru SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, yang belum terdeteksi

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan, tiga anak dari Jakarta Timur dan Jakarta Barat meninggal diduga akibat terinfeksi hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. 

Berbagai spekulasi pun mencuat terkait dugaan penyebab, mulai dari adenovirus hingga vaksin Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19.

Terkait spekulasi yang mengaitkannya dengan vaksin COVID-19, Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban mengingatkan bahwa hal ini tidak sesuai dengan fakta ilmiah.

"Hipotesis ini tidak didukung data, karena sebagian besar anak-anak yang terkena hepatitis misterius ini justru belum menerima vaksinasi COVID-19," katanya dalam cuitan pribadinya di Twitter.

Sementara itu, Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menyinggung kemungkinan varian baru SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, yang belum terdeteksi.

Hal ini dimungkinkan justru karena anak-anak banyak yang belum mendapat vaksinasi COVID-19.

"Anak ini kan telat banget dapat vaksin. Baru belakangan dapat vaksin itupun di atas 6 tahun itu belum banyak yang mendapat dua dosis, ketika hadir varian yang lebih cepat Omicron dan sebagainya, mereka menjadi korban," beber Dicky, Selasa (03/05/2022).

Dugaan ini diperkuat dengan beberapa kasus long COVID yang juga disertai dengan hepatitis. Ia juga menekankan, kelompok yang rentan mengalami dampak fatal adalah anak-anak dengan status gizi buruk.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO dalam laporan terbarunya menyebut adenovirus sebagai hipotesis yang paling mungkin. Dari lebih dari 170 kasus yang dilaporkan di 12 negara, sebanyak 74 kasus terdeteksi berhubungan dengan adenovirus tipe 41.

Terkait 3 kasus meninggal di Indonesia, prof Tjandra Yoga Aditama yang pernah menjabat sebagai Dirjen WHO Asia Tenggara berharap Kemenkes melakukan pemeriksaan dan segera mengumumkan hasilnya. Termasuk hasil pemeriksaan laboratorium Hepatitis A, B, C, dan E.

"Selain itu tentu juga bagaimana hasil ada tidaknya Adenovirus 41 yang kini banyak diduga sebagai penyebab Hepatitis di lintas benua ini," tulis Prof Tjandra melalui pesan singkat kepada wartawan.

Sebelumnya, Kemenkes melaporkan temuan 3 kasus meninggal dunia dengan dugaan hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. Ketiganya dirawat di RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo dan merupakan rujukan dari Jakarta Timur dan Jakarta Barat.

Para pasien mengalami gejala:

Mual
Muntah
Diare berat
Demam
Kuning (jaundice)
Kejang
Penurunan kesadaran


Melalui surat edaran, Kemenkes mengimbau rumah sakit untuk melakukan pengamatan terhadap semua kasus sindrom jaundice akut yang tidak jelas penyebabnya. Rumah sakit juga diminta melakukan hospital record review terhadap kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology).

 

detik