Ganjar-Erick, menampilkan perimbangan Jawa dan Luar Jawa.

Sejumlah lembaga survei telah melakulan simulasi pasangan capres cawapres pada Pilpres 2024 mendatang. Duet Ganjar Pranowo dan Erick Thohir diyakini mampu bersaing dengan pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani.

Dari sejumlah survei terkait elektabilitas, nama Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan selalu masuk dalam tiga besar.

Dalam survei SMRC pada 13-20 Maret 2022, simulasi tiga pasangan masih imbang antara Prabowo-Puan (27,5 persen), Ganjar-Airlangga (28,5 persen), dan Anies-AHY (29,8 persen).

Dengan memperhitungkan margin of error ±3,12 persen, ada kemungkinan pemilu berlangsung dua putaran.

Jika dalam simulasi dua pasangan, persaingan ketat terjadi antara Prabowo-Puan (41,0 persen) melawan Anies-AHY (37,9 persen) maupun Prabowo-Puan (39,3 persen) dengan Ganjar-Airlangga (40,3 persen).

"Artinya, belum ada pasangan unggul telak jika polanya seperti itu," kata Endang Tirtana, peneliti senior Syafii Maarif Institute Jakarta, seperti dikutip dari kolom opini republika.

Sementara survei Center for Political Communication Studies (CPCS) pada 11-20 April 2022 menunjukkan Anies-Puan (43,8 persen) bisa menjadi alternatif Prabowo-Puan (45,0 persen). Masing-masing unggul dalam simulasi tiga pasangan, selain Ganjar-Airlangga (38,0 persen) dan Anies-Andika (35,4 persen).

Survei Index Research pada 21-30 Maret 2022 mengunggulkan Anies-Puan dengan elektabilitas 51,3 persen dalam salah satu simulasi. Prabowo-Puan hanya 27,8 persen dalam simulasi yang lain, bahkan kalah dari Anies-AHY (38,0 persen).

Di antara kemungkinan Prabowo-Puan dan Anies-Puan ataupun Anies-AHY, skenario lain yang mencuri perhatian adalah Ganjar dengan pasangannya.

Survei Indikator pada 11-21 Februari 2022 membuat beberapa simulasi tiga pasangan, hasilnya Ganjar paling tinggi ketika dipasangkan dengan Erick Thohir (32,2 persen). Dalam simulasi dua pasangan, Ganjar-Erick bahkan unggul (41,8 persen) dari Prabowo-Puan (39,0 persen).

Sebagai perbandingan, survei Charta Politika pada 10-17 April 2022, mengunggulkan Ganjar-Erick (33,6 persen) dari Anies-AHY (27,0 persen) dan Prabowo-Puan (23,3 persen). Ganjar unggul di simulasi lain, dengan Sandiaga (34,3 persen), Ridwan Kamil (34,1 persen), dan Khofifah (33,3 persen).

Dalam Rembuk Rakyat oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ganjar dan Erick menjadi tokoh yang dianggap paling cocok menjadi penerus Jokowi. Hasil polling live per 6 Mei 2022 menunjukkan Ganjar memimpin 43,63 persen, Erick kedua 27,60 persen.

Nasdem yang berencana menggelar rakernas pada Juni 2022, tengah menggodok usulan nama capres-cawapres. Masuknya nama Ganjar dan Erick dalam dukungan kader Nasdem menjadi pertanda kedua tokoh ini memiliki magnet politik yang kuat.

Dapat disimpulkan sementara, pasangan Ganjar-Erick berpeluang mendulang dukungan cukup besar, ketika berhadapan dengan poros Prabowo maupun Anies. Dari sisi latar belakang, Ganjar-Erick mewakili kombinasi politisi dan pengusaha.

Ganjar meniti karier politik di PDIP, menjadi anggota DPR, dan terpilih sebagai gubernur selama dua periode di Jawa Tengah, basis PDIP.  

Erick sukses membangun bisnis media dan hiburan, serta berkarier di dunia olahraga. Ia memiliki klub basket, membeli Inter Milan, dan sukses menyelenggarakan Asian Games 2018. Ia masuk politik saat menjadi ketua tim kampanye Jokowi, hingga menjadi menteri BUMN.

Ganjar-Erick, menampilkan perimbangan Jawa dan Luar Jawa. Ganjar memiliki basis dukungan kuat di Pulau Jawa, Erick merepresentasikan tokoh nasional asal Sumatra bagian selatan.

Selain itu, secara ideologis, pasangan Ganjar-Erick mengakomodasi perpaduan nasionalis dan Islam. Ganjar berangkat dari politik nasionalis, Erick pengusaha nasional.

Jika mendapat mandat untuk memimpin Indonesia, Ganjar-Erick memegang amanat melanjutkan kepemimpinan Jokowi pasca-2024. Selama dua periode Jokowi meletakkan pondasi pembangunan nasional, khususnya infrastruktur yang digenjot pembangunannya.

Ganjar-Erick diharapkan mampu mendayagunakan keunggulan bonus demografi untuk mendorong perekonomian. Stabilitas sosial-politik penting untuk membawa Indonesia maju pada 2045 atau tepat pada 100 tahun kemerdekaan.