Para ahli mengatakan bahwa Korut sebenarnya tak punya kapasitas testing COVID-19 yang mumpuni. Ini juga yang membuat negara itu tidak melaporkan kasus saat COVID-19 merebak di seluruh dunia

Korea Utara (Korut) merupakan salah satu negara paling aman dari penyebaran Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Sayangnya, ketika hampir seluruh negara tengah berbenah setelah mulai pulih, Korut justru baru mulai diserang virus yang pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, China tersebut.

Meski baru mengumumkan penemuan kasus COVID-19 dalam dua tahun terakhir, kondisi penyebaran virus itu di Korut cukup masif. Bahkan, puluhan orang telah meninggal dunia akibat terinfeksi COVID-19 di negara itu.

Korut melaporkan, pada Minggu, (15/5/2022), ditemukan total 42 orang telah meninggal dunia akibat terinfeksi COVID-19. Selain itu, otoritas Korut juga mengatakan bahwa telah terjadi 'ledakan' kasus dengan nyaris 300 ribu orang tumbang.

"Semua provinsi, kota, dan kabupaten di negara ini telah dikunci total dan unit kerja, unit produksi, dan unit perumahan ditutup satu sama lain sejak pagi 12 Mei dan pemeriksaan ketat dan intensif terhadap semua orang sedang dilakukan," lapor kantor berita KCNA dikutip Reuters.

"Setidaknya 296.180 orang tumbang dengan gejala demam, dan 15 lainnya meninggal pada hari Minggu. Secara keseluruhan Korea Utara telah melaporkan 820.620 kasus yang dicurigai, dengan 324.550 masih dalam perawatan medis," kata KCNA.

Para ahli mengatakan bahwa Korut sebenarnya tak punya kapasitas testing COVID-19 yang mumpuni. Ini juga yang membuat negara itu tidak melaporkan kasus saat COVID-19 merebak di seluruh dunia.

Bahkan, saat dunia sedang kekurangan vaksin COVID-19, negara komunis itu menolak untuk mendapatkan vaksin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Tercatat, lembaga itu sempat ingin mengirimkan jutaan vaksin Sinovac dan Astrazeneca.

Korut sebelumnya berdalih negaranya tidak membutuhkan vaksin karena tidak memiliki kasus. Negara yang seringkali disebut DPRK dalam bahasa Inggris itu menyebut masih banyak negara lain yang lebih membutuhkan vaksin dibanding negaranya.

Meski demikian, rezim Kim Jong-Un tidak tinggal diam. Korut sendiri mengambil langkah penutupan perbatasannya setelah berkembangnya kasus COVID-19 di tetangganya, China.

Tak hanya dari luar, Korut juga sempat memberlakukan tindakan protokol yang ketat di dalam negerinya, termasuk pembatasan perjalanan domestik.

Kebijakan pengetatan ini sendiri sempat mendapatkan sorotan asing. Pasalnya, penutupan perbatasan sangat mengganggu jalur logistik dari luar negara itu. Apalagi, Korut berada dalam ancaman kelaparan yang sangat tinggi karena topan taifun pada 2020 yang merusak persediaan pangan negara itu.