Pengetatan moneter yang dijalankan bank sentral AS (the Fed) dikhawatirkan berdampak kepada semakin memburuknya perekonomian dunia. Diperkeruh lagi perang Rusia-Ukraina.

Tak main-main, Chief Executive Officer (CEO) JPMorgan & Chase, Jamie Dimon menyebut 'badai' ekonomi sudah di depan mata.

Hal itu disampaikannya menanggapi krisis pangan dan energi global yang memicu inflasi serta rencana sejumlah sinyal normalisasi dari otoritas moneter global termasuk Federal Reserve (the Fed).

"Ini badai," ujar Dimon di keterangan yang disponsori oleh Alliancebernstein Holdings, pekan lalu, seperti dikutip Bitcoin.com.

 "Saat ini agak cerah. Semuanya baik-baik saja. Semua orang berpikir The Fed bisa mengatasinya," katanya.
"Tapi, badai itu ada di luar sana, di ujung jalan yang akan datang ke arah kita. Kita hanya tidak tahu, apakah itu kecil atau Superstorm Sandy. Anda sebaiknya bersiap-siap," pesannya.

Pada Mei lalu, Dimon juga mengatakan akan ada "awan badai". Namun proyeksi tersebut kini telah direvisi. "Saya bilang ada awan badai, itu awan badai besar, ini badai," katanya memperingatkan. JP Morgan akan menguatkan diri dan akan sangat konservatif dengan neraca perusahaan.

Dimon juga menyorot beberapa masalah utama. Pertama, The Fed bisa melakukan program pembelian obligasi darurat, lalu mengurangi neraca dan quantitative tightening (QT) yang akan dimulai bulan ini.

"Kami tidak pernah memiliki QT seperti ini. Jadi, Anda sedang melihat sesuatu yang dapat Anda tulis dalam buku sejarah selama 50 tahun terakhir. Bank sentral tidak punya pilihan karena ada likuiditas terlalu banyak dalam sistem. Mereka harus menyedot sebagian likuiditas untuk menghentikan spekulasi, mengurangi harga rumah dan hal-hal seperti itu," katanya.

Kedua, faktor perang Rusia dan Ukraina dan dampaknya terhadap harga komoditas, termasuk makanan dan bahan bakar. 

Dia memperingatkan harga minyak berpotensi mencapai 150 hingga 175 dollar AS per barel. Perang Russia dan Ukraina bisa menjadi buruk dan ada konsekuensi yang tidak diinginkan. 

"Kita tidak mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi Eropa dari apa yang akan terjadi pada minyak dalam jangka pendek," katanya.

Agak moderat, manajer investasi yang mengelola kekayaan miliarder George Soros, Dawn Fitzpatrick tidak setuju dengan sebagian besar pembicaraan seputar resesi ekonomi di AS.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan investor David Rubenstein di acara bincang-bincang Bloomberg Wealth-nya, Fitzpatrick mengatakan inflasi dan kenaikan suku bunga membuat resesi "tak terhindarkan", tetapi pasar kehilangan sesuatu.

"Konsumen di sini dalam kondisi yang luar biasa baik," kata Fitzpatrick, CEO dan CIO Soros Fund Management, yang sekarang dioperasikan sebagai kantor keluarga setelah sebelumnya menjadi hedge fund yang legendaris.

Fitzpatrick memaparkan beberapa faktor penting yang menurutnya dapat menyebabkan resesi yang relatif moderat bagi rata-rata konsumen AS.

Meskipun Fitzpatrick berpikir resesi sudah pasti, namun dia tidak setuju dengan prediksi pasar bahwa penurunan parah akan terjadi pada awal tahun depan.

Kekuatan konsumen AS, tambahnya, cukup untuk mencegah resesi yang parah. Tidak seperti resesi masa lalu, banyak konsumen Amerika terus mendapat manfaat dari kumpulan besar tabungan yang dibangun selama program stimulus fiskal era pandemi. 

Investor kawakan, Robert Kiyosaki, pekan lalu, banyak mengeluarkan peringatan tentang ekonomi AS.
Penulis buku Rich Dad Poor Dad itu mengatakan inflasi membunuh peritel, bahkan perusahaan raksasa seperti Target dan Walmart. "Pembeli kehabisan uang," katanya di Twitter, Senin (30/5), seperti dikutip Bitcoin.com.

Head of Global Market Strategy Wells Fargo Investment Institute, Paul Christopher, sebelumnya menyebutkan pada awal Juni ini para peritel mulai mengungkapkan dampak daya beli konsumen yang terkikis akibat inflasi.