Tetapi karena semakin banyak orang mempertimbangkan cara untuk pergi, Beijing telah menggandakan kebijakan keluar yang ketat untuk warga negara China. Pada paruh pertama tahun 2021, otoritas imigrasi hanya mengeluarkan 2% dari paspor yang diberikan pada periode yang sama tahun 2019

Masyarakat kelas menengah China kini disebut sedang berupaya meninggalkan negeri itu. Salah seorang di antaranya adalah Alan lI (nama samaran), sebagaimana dimuat AFP, Rabu (17/05/2022) yang mengaku tak melihat masa depan bagi keluarganya di China. 

Diceritakannya, hal itu setelah aturan keras Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 sudah menghancurkan bisnisnya, menjungkirbalikkan pendidikan puteranya, dan membuat negaranya 'tidak sejalan' dengan negara-negara lain di dunia.

Dalam pengakuannya, Alan mengatakan, berencana pindah ke Hongaria. Ia yakin lebih melihat peluang di sana.

"Kehilangan yang kami rasakan tahun ini berarti semua sudah musnah. Kami telah menggunakan tabungan tunai sendiri untuk membayar 400 pekerja kami (selama penguncian). Bagaimana jika itu terjadi lagi musim dingin ini?"

Bukan hanya bagi dirinya, kepindahan itu juga penting bagi puteranya. Ia frustrasi karena sekolah bilingual putranya yang mahal terus online.

Ini telah membuat keinginan putranya mendaftar sekolah di Amerika Serikat sirna. Ia pun takut pemerintah Beijing memperketat pengawasan kurikulum dikemudian hari.

"Ini adalah pemborosan," katanya menyebut biaya sekolah anaknya.

Komentar Alan bukanlah bualan. Konsultan imigrasi yang berbasis di Beijing, Guo Shize, mengatakan memang perusahaannya telah melihat ledakan permintaan sejak Maret, termasuk peningkatan tiga kali lipat pada klien Shanghai

Bahkan setelah penguncian mereda, permintaan terus banjir. Bahkan lebih dari dua kali lipat dari biasanya.

"Begitu ide itu menyala di benak orang, itu tidak akan mati dengan cepat," katanya Shize.

Hal sama juga terlihat di WeChat, semacam Twitter China. Meski pemerintah menyensor kata 'imigrasi', sejumlah kata dipakai untuk merujuk ke upaya 'parti' ke negara lain, seperti "lari".

"Penelusuran untuk istilah tersebut di aplikasi WeChat memuncak selama penutupan Shanghai," tulis AFP.

Tetapi karena semakin banyak orang mempertimbangkan cara untuk pergi, Beijing telah menggandakan kebijakan keluar yang ketat untuk warga negara China. Pada paruh pertama tahun 2021, otoritas imigrasi hanya mengeluarkan 2% dari paspor yang diberikan pada periode yang sama tahun 2019.

Sementara itu, seorang warga China yang telah bermigrasi ke Jerman mengatakan dia menerima lusinan pesan dari orang-orang yang mencari tips untuk melarikan diri. Emily, nama samaran, mencoba membantu kerabatnya mendapatkan paspor baru untuk bekerja di Eropa, tetapi lamaran itu ditolak.

"Ini seperti menjadi anak yang ingin pergi ke rumah teman mereka untuk bermain tetapi orangtua mereka tidak mengizinkan mereka pergi," jelasnya.