Shock, itu yang pertama dirasakan Mendag penggati Muhammad Lutfi tersebut ketika meninjau langsung harga kebutuhan pokok di Pasar Cibubur

Harga kebutuhan pokok atau harga pangan di beberapa daerah terpantau terus melonjak. Contohnya, harga kebutuhan pokok di Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Di mana, komoditas cabai merah yang kini harganya menembus Rp100.000 per kilogram.

Tak hanya cabai merah, beberapa bahan pokok lain juga terjadi kenaikan harga seperti cabai rawit, tomat, bawang merah serta kebutuhan lainnya. 

Pedagang pasar Keutapang, Kamal mengatakan, harga cabai cabe rawit juga naik menjadi Rp50.000 per kilogram dari sebelumnya Rp45.000 per kilogram, kemudian bawang merah peking dari Rp15.000 menjadi Rp25.000 per kilogram.

Tingginya harga kebutuhan pokok saat ini menjadi tugas cukup berat untuk Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan (Zulhas). Hari pertama usai dilantik, Mendag Zulhas pun langsung terjun ke pasar untuk melihat langsung harga kebutuhan pokok.

Shock, itu yang pertama dirasakan Mendag penggati Muhammad Lutfi tersebut ketika meninjau langsung harga kebutuhan pokok di Pasar Cibubur.

"Saya terus terang shock. Kebutuhan pokok semuanya hampir naik. Eh, cabai saja naik dari Rp80.000 per kilogram menjadi Rp110.000 per kilogram," ujarnya kepada wartawan di Pasar Cibubur, Jakarta Timur Kamis (16/06/2022).

Selain cabai, komoditas daging ayam juga mengalami kenaikan menjadi Rp29.000 per Kg. Saat normal, harga bahan tinggi protein tersebut dijual Rp21.000 sampai Rp22.000 per kilogram. 

"Telur juga kemarin sempat Rp26.000 sekarang rata-rata Rp29.000 per kilo," ujarnya.

Tak hanya itu, Mendag Zulhas juga mendapati harga terigu naik. Diikuti, tempe yang dijual Rp12.000 dari sebelumnya Rp7.000. 

"Harga bumbu-bumbu juga naik, kalau terigu jelas karena barang impor, kedelai juga," jelasnya.

Apa Penyebab Mahalnya Harga Kebutuhan Pokok?

Mendag Zulhas mengatakan, terkait penyebab utama mahalnya harga bahan pangan di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Dia menyebut, lonjakan harga pangan disebabkan oleh tingginya ketergantungan impor.

"Masalah utama kita ini adalah tingginya ketergantungan impor pangan. Hampir semua impor, itu problem utama kita," kata Mendag Zulhas kepada wartawan di Pasar Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (16/06/2022).

Mendag mencontohkan, kenaikan harga daging ayam menjadi Rp26.000 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp21.000-Rp22.000 per kg disebabkan oleh lonjakan pakan ternak. Mengingat, harga jagung impor sebagai salah satu komposisi pakan ternak mengalami kenaikan drastis.

"Nah, saya tadi kenapa ayam naik sih? Itu rupanya pakannya, campuran pakannya jagung, ada impor juga," jelasnya.

Selain komoditas ayam, Mendag Zulkifli mendapati harga tempe mengalami kenaikan harga menjadi Rp12.000 dari sebelumnya Rp7.000. Hal ini dipengaruhi oleh mahalnya harga kedelai impor sebagai bahan baku kedua bahan pangan favorit masyarakat tersebut.

"Kedelai naik dulu 1 ton nya di bawah Rp 1 juta. sekarang hampir Rp 1,3 juta per ton," bebernya.

Kemudian, harga daging sapi di Pasar Cibubur juga masih tinggi rata-rata di jual Rp140.000 per kg. Mendag Zulhas menggolongkan komoditas daging sapi sendiri ke dalam bahan pangan impor. "Daging itu impor," ujarnya.

Apa Solusi dari Mendag?

Mendag Zulkifli mengakui bukan persoalan mudah bagi Kementerian Perdagangan untuk mengatasi persoalan harga pangan tersebut. Mengingat, diperlukannya sinergi yang melibatkan kementerian/lembaga terkait guna mengurangi ketergantungan impor.

"Kita akan selesaikan bareng-bareng dengan kementerian terkait," katanya.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri berharap, Mendag Zulhas dapat mengatasi persoalan pangan terkait lonjakan harga yang terjadi akhir-akhir ini. Mengingat, dalam waktu dekat akan memasuki perayaan Idul Adha 2022.

Selain persoalan kenaikan harga pangan, Ikappi juga meminta Mendag Zulhas untuk lebih berpihak terhadap sektor UMKM dan memperkuat perdagangan dalam negeri. Menyusul, pelaku UMKM amat terbebani dengan lonjakan harga pangan yang tak kunjung berhasil diatasi.

"Dan satu harapan kami berpihak lah kepada pedagang pasar tradisional, berpihaklah kepada UMKM dan perkuat perdagangan dalam negeri agar tidak tersesat di dalam hutan," ujar Abdullah Mansuri dalam keterangannya, Kamis (16/06/2022).

Dia juga berharap Mendag Zulhas mampu menyelesaikan berbagai persoalan di sektor perdagangan khususnya pangan yang dinilai amat rumit layaknya hutan belantara.

"Terhadap Mendag yang baru tetapi kami ingin menyambut welcome to jungle. Kepada pak menteri, belantara hutan ini harus diperbaiki, dirapikan untuk memperkuat keberhasilan program pangan nasional," pungkasnya.