Indonesia berada dalam posisi yang cukup baik. Kasus COVID-19 yang terkendali dan pemulihan ekonomi yang berlanjut menjadi modal yang kuat dalam situasi gonjang ganjing sekarang. Apalagi ditambah dengan durian runtuh dari lonjakan harga komoditas internasional

Akibat pandemi Corona Virus Desease 2018 atau COVID-19, perang Rusia-Ukraina, hingga kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS), membuat sebanyak 60 negara kini berada di posisi yang sangat rentan. 

Hal tersebut diungkap Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati dalam UI International Conference on G20, seperti dikutip, Selasa (21/06/2022).

"Begitu banyak negara berpenghasilan rendah sebenarnya dalam risiko yang sangat mengerikan atau mendekati krisis keuangan. Menurut IMF lebih dari 60 negara berada dalam kondisi yang sangat rentan secara finansial dan oleh karena itu dunia perlu merespon," jelas Sri Mulyani 

Perang yang sudah berlangsung sejak Februari tersebut menimbulkan krisis pangan dan energi sehingga menimbulkan lonjakan inflasi. Sederet negara tidak mampu menahan hal tersebut, sebab kondisi fiskal masing-masing negara yang sudah terjepit.

"Beberapa negara rasio utang sudah di atas 60% bahkan ada yang 80% bahkan 100% terhadap PDB. Jadi mereka sekarang memiliki rasio utang terhadap PDB yang lebih dramatis, dan untuk negara yang berpenghasilan rendah dan rentan situasinya menjadi tidak berkelanjutan," urai Sri Mulyani.

Sementara ketika AS menaikkan suku bunga acuan, maka yang terjadi adalah capital outflow. Maka dari itu opsinya adalah juga ikut mengikuti kenaikan suku bunga, yang jelas dampaknya adalah perlambatan perekonomian. Kondisi yang dinamakan stagflasi akhirnya terjadi.

Indonesia berada dalam posisi yang cukup baik. Kasus COVID-19 yang terkendali dan pemulihan ekonomi yang berlanjut menjadi modal yang kuat dalam situasi gonjang ganjing sekarang. Apalagi ditambah dengan durian runtuh dari lonjakan harga komoditas internasional.

Sehingga mendorong penerimaan negara meningkat drastis. Dana tambahan tersebut digunakan untuk menahan lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi dan pangan serta mengurangi rencana penerbitan surat utang.

"Dengan penerimaan yang kuat dari commodity boom, rasio utang kita terhadap PDB sebenarnya telah turun 13%," ujarnya. Hal ini lebih baik dibandingkan dengan negara lainnya.

Utang pemerintah Indonesia tercatat 39,09% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada April tahun ini. Rasio tersebut meningkat tajam dibandingkan periode pra-pandemi tetapi masih lebih sedikit dibandingkan banyak negara termasuk peer nya yakni Brazil dan Malaysia.

Sebagai catatan, rasio utang pemerintah pada April 2019 tercatat 29,65%. Namun, rasio utang tersebut meningkat pesat setelah pandemi COVID-19 melanda dunia pada Maret 2020. Per Desember 2021 lalu, posisi utang pemerintah bahkan menembus 41%.