Birol juga memperingatkan bahwa krisis energi saat ini jauh lebih besar daripada guncangan minyak pada 1970-an. Selain itu, kekurangan bahan bakar kali ini berpotensi berlangsung lebih lama

Krisis energi benar-benar mengancam sejumlah negara Eropa. Hal ini diungkapkan Kepala Badan Energi Internasional. Stok bahan bakar pada musim panas tahun ini ketat, akibat sanksi minyak Rusia dan pasokan gas yang dibatasi pemerintah Kremlin.

Sebagian negara,  sudah 'berteriak' dan mulai sibuk mengamankan pasokannya masing-masing.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol kepada Der Spiegel yang dikutip kembali oleh Reuters. Menurutnya, terancam kekurangan stok bahan bakar pada musim panas tahun ini akibat pasar minyak dunia yang makin ketat.

"Ketika musim liburan utama dimulai di Eropa dan AS, permintaan bahan bakar akan meningkat. Kemudian kita bisa melihat kekurangan: misalnya dengan solar, bensin, atau minyak tanah, khususnya di Eropa," tuturnya.

Birol juga memperingatkan bahwa krisis energi saat ini jauh lebih besar daripada guncangan minyak pada 1970-an. Selain itu, kekurangan bahan bakar kali ini berpotensi berlangsung lebih lama.

"Saat itu hanya tentang minyak. Sekarang kita mengalami krisis minyak, krisis gas, dan krisis listrik secara bersamaan," tambahnya.

Adapun, kekhawatiran tersebut datang di tengah langkah drastis Uni Eropa yang menjatuhkan sanksi kepada Rusia berupa embargo minyak. Sebanyak 90% pasokan minyak Negeri Beruang Merah ke Benua Biru akan dihentikan.

Berikut daftar negara-negara yang berada dalam krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina, dihimpun dari berbagai sumber:

1. Swedia

Badan Energi Swedia telah mengumumkan "peringatan dini" soal pasokan gas di negara itu. Ini merupakan status siaga pertama akan situasi krisis, diikuti "peringatan" untuk level lebih tinggi dan "darurat" untuk level sangat tinggi.

Swedia sendiri menjadi salah satu negara yang sangat bergantung pada gas Rusia. Di sisi lain, Rusia mulai mengurangi pasokannya ke Eropa, termasuk ke Swedia.

"Swedia dan Denmark memiliki pasar gas dan zona keseimbangan bersama, di mana situasi pasokan Denmark sangat penting bagi Swedia," kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

"Oleh karena itu Badan Energi Swedia telah memutuskan untuk mencerminkan keputusan Denmark pada tingkat krisis."

2. Jerman

Jerman berencana untuk menyalakan pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU). Hal ini terjadi karena situasi pasar gas yang memburuk akibat pembatasan pasokan gas Rusia.

Menteri Ekonomi Robert Habeck memperingatkan bahwa situasinya akan "sangat ketat di musim dingin". Apalagi, jika negara itu tidak melakukan tindakan pencegahan untuk membendung kekurangan pasokan.

Karenanya, negeri itu akan mengkompensasi pengurangan pasokan gas Rusia dengan meningkatkan pembakaran batu bara. Padahal sebelumnya Jerman berkomitmen "membuang" bahan bakar fosil paling intensif karbon itu.

"Itu menyedihkan, tetapi hampir diperlukan dalam situasi ini untuk mengurangi konsumsi gas. Kami harus dan kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menyimpan gas sebanyak mungkin di musim panas dan musim gugur," kata Habeck dikutip CNBC International, Senin (20/6/2022).

"Tangki penyimpanan gas harus penuh di musim dingin. Itu yang menjadi prioritas utama," tambahnya.

Fasilitas penyimpanan Jerman saat ini berada pada kapasitas sekitar 56%. Namun situasi menjadi tak menentu kala perusahaan gas Rusia, Gazprom, yang biasa menyalurkan gas melalui pipa Nord Stream 1 di Jerman membatasi pasokan dengan menyebut "masalah teknis".

Jerman merupakan negara yang paling bergantung dengan gas Rusia, selain Italia, di Eropa.

3. Belanda

Sama seperti Jerman, pemerintah Belanda juga menghidupkan kembali tenaga batu bara. Negeri Kincir Angin juga meminta industri dan pelaku bisnis untuk menghemat penggunaan energinya.

Belanda mengaku pemotongan yang dilakukan Rusia sangatlah mengkhawatirkan meski negara itu hanya mengimpor 15% pasokan gasnya dari Moskow.

"Saya ingin menekankan bahwa saat ini tidak ada kekurangan gas akut. Namun, lebih banyak negara sekarang diperas (oleh Rusia). Itu mengkhawatirkan kami," Menteri iklim dan energi Belanda Rob Jetten mengatakan kepada wartawan di Den Haag.

4. Austria

Selain Jerman dan Belanda, Austria juga telah mengambil langkah serupa. Wina memutuskan untuk mengaktifkan kembali pembangkit batu baranya pasca berkurangnya pasokan gas Moskow.

"Pihak berwenang akan bekerja dengan kelompok Verbund, pemasok listrik utama negara itu, untuk membuat stasiun di kota selatan Mellach kembali berfungsi," kata kantor Kanselir negara itu dikutip AFP, Selasa (21/6/2022).

5. Denmark

Badan energi Denmark kini memberikan status "peringatan dini" seiring kekhawatiran pasokan gas karena ketidakpastian impor energi dari Rusia akibat perang dengan Ukraina. Sebagai informasi, Negara Uni Eropa (UE) memberikan tiga tingkatan peringatan akan krisis, dimulai dengan "peringatan dini", lalu "waspada", dan yang tertinggi "darurat".

"Ini adalah situasi serius yang kami hadapi dan diperparah dengan berkurangnya pasokan," kata Wakil Direktur Badan Energi Denmark, Martin Hansen, ketika mengumumkan peringatan, Senin, dikutip AFP.

Pengumuman muncul setelah perusahaan energi Denmark Orsted mengumumkan pengiriman gas Rusia ke negara Skandinavia itu akan ditangguhkan mulai 1 Juni. Orsted menolak menyelesaikan pembayaran dalam rubel, "senjata" pemerintahan Presiden Vladimir Putin pada negara-negara barat yang memberinya sanksi karena serangan ke Ukraina.

Rusia sendiri adalah salah satu sumber utama impor gas Denmark. Gas mewakili 18% dari energi yang dikonsumsi warga setiap tahun di Denmark. Produksi domestik Denmark sebenarnya menyumbang 3/4 gas konsumsi. Sementara itu, saat ini, stok gas Denmark sekitar 75%.