Nasdem tidak ingin fokus pada kepentingan partai melainkan mencari calon pemimpin Indonesia yang memang dinilai memiliki kapabilitas dan pantas.

Partai Nasional Demokrat (NasDem) memberi sinyal kuat untuk membentuk koalisi bersama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Demokrat dalam agenda Pemilihan Presiden atau Pilpres 2024 mendatang.

Hal itu disampaikan oleh Ketua DPP Sugeng Suparwoto NasDem merespons Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla yang memprediksi empat poros di Pilpres 2024 yang sudah mulai tampak, yakni, PDIP; Gerindra-PKB; Koalisi Indonesia Bersatu yang beranggotakan Golkar-PAN-PPP; dan Koalisi NasDem-PKS-Demokrat.

"Sangat mungkin bisa saja terjadi dan itu bahkan menjadi exercise kami dari NasDem," kata Sugeng dalam Newscast Special Road to 2024 CNNIndonesia TV, Selasa (28/6) malam.

Sugeng melanjutkan, NasDem kemungkinan besar tidak mengusung kader internal partai melainkan mengusung kader partai lain pada kontestasi politik 2024 mendatang. 

NasDem, kata dia, tidak ingin fokus pada kepentingan partai melainkan mencari calon pemimpin Indonesia yang memang dinilai memiliki kapabilitas dan pantas.

Hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai NasDem menurutnya juga telah merekomendasikan tiga nama calon presiden yang berpotensi bakal diusung dalam Pilpres 2024. Tiga nama tersebut merupakan usulan para kader NasDem di daerah selama tiga hari Rakernas di JCC Senayan, Jakarta mulai 15-17 Juni lalu.

Tiga nama bakal capres NasDem adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa. Padahal menurutnya internal partai NasDem juga telah memiliki kader unggul seperti Rachmat Gobel.

"Kami sempat mensosialisasikan dan menjelaskan sekaligus siap di antara tiga ini untuk kepentingan bangsa," kata dia

Lebih lanjut, Sugeng juga yakin elektabilitas NasDem tidak akan merosot kendati tidak mengusung kader partainya sendiri. Ia mencontohkan pada Pilpres 2014-2019 lalu, partainya tetap eksis kendati saat itu mengusung kader partai lain, yakni Joko Widodo dari PDIP.

"2014-2019 terbukti kader naik signifikan 64 persen, bahkan secara proporsional dari 36 menjadi 59 kursi," ujar Sugeng.