Peternak memiliki beban yang besar ketika ternaknya terinfeksi atau terdampak PMK.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan pemerintah tidak cukup hanya melakukan vaksinasi PMK. Pemerintah perlu melakukan mitigasi merebaknya penyakit mulut dan kuku atau PMK untuk mencegah turunnya harga daging sapi.

Wakil Ketua Komite Tetap Bidang Livestock and Diary Kadin Indonesia Yudi Guntara Noor mengusulkan agar daging sapi yang terpapar PMK dijadikan pasokan atau cadangan daging nasional.

"Sapi-sapi yang terpapar PMK, suspect, atau pemotongan dalam kaitannya dengan penanganan mitigasi PMK, digunakan sebagai buffer stock daging pemerintah," ujar Yudi dalam seminar online yang diadakan Kementerian Pertanian pada dikutip Rabu, 29 Juni 2022.

Menurut dia, peternak memiliki beban yang besar ketika ternaknya terinfeksi atau terdampak PMK.

Jika sapi mati, biaya penguburannya bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta per ekor. Sedangkan bila sapi memerlukan pemotongan paksa, biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 2,5 juta sampai Rp 5 juta per ekor. Adapun harga daging sapi suspect PMK hanya berkisar Rp 30 ribu sampai Rp 49 ribu per kilogram.

Yudi menyebutkan biaya obat-obatan dan perawatan yang dibutuhkan ketika sapi yang terinfeksi PMK, seperti antibiotik, antipiretik, vitamin, obat tradisional, dan disinfektan mencapai Rp 250 ribu hingga Rp 350 ribu.

Yudi dikutip tempo.co mengatakan telah menyampaikan usulannya pada Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi. Ia mengaku usulan tersebut telah disetujui. Menurutnya, kerja sama juga perlu dilakukan dengan Perum Bulog, Holding BUMN Pangan ID Food, BUMD, dan lembaga swasta lainnya.

"Kami usulkan ke Bapanas dan Pak Arief sudah setuju," ujarnya.

Lebih jauh, Yudi menuturkan kerja sama juga diperlu dilakukan dengan rumah potong hewan (RPH yang memiliki infrastruktur penanganan pemotongan ternak bersyarat PMK. Adapun penugasan dilakukan untuk mengurangi beban ekonomi risiko peternak yang terdampak PMK.

Kadin, kata Yudi, juga sudah mengusulkan ke Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Menurut dia, pemerintah perlu menyiapkan dana untuk membeli ternak tersebut kemudian memotongnya dan menyimpan daging sapi yang terinfeksi PMK itu untuk dibekukan. "Ini perlu karena kalau ternak sudah mati, penghasilannya peternak sudah tidak ada," ujar Yudi.