YLKI meminta kenaikan tarif batas atas tiket pesawat tersebut tetap memerhatikan Undang-Undang Penerbangan.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai permintaan maskapai agar pemerintah menaikkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat menyusul naiknya harga bahan bakar avtur adalah hal yang wajar.

"Sah-sah saja permintaan seperti itu, tinggal bagaimana nanti pemerintah mempertimbangkan aspek maskapai dan konsumen," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Jumat, 1 Juli 2022.

Meski demikian, Tulus meminta kenaikan tarif batas atas tiket pesawat tersebut tetap memerhatikan Undang-Undang Penerbangan.

Sementara itu, dari sisi konsumen, menurut dia, tarif tiket pesawat tidak mempertimbangkan aspek daya beli konsumen karena industri penerbangan adalah bisnis padat modal.

"Dari sisi konsumen tarif pesawat tidak mempertimbangkan aspek daya beli konsumen, nanti seleksi alamiah, mengingat maskapai padat modal. Jadi harus benar-benar ketat struktur tarifnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Tulus mengingatkan, kenaikan tiket pesawat harus dipatuhi seluruh maskapai yaitu sesuai dengan tarif batas atas (TBA) dan tarif batas bawah (TBA).

"Jangan dilanggar keduanya. Kalau melanggar bisa dikenakan sanksinya," ucap dia.

Sebelumnya, dikutip Kompas.com, President Director of Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro Adi meminta Kemenhub untuk menaikkan TBA tiket pesawat kerena maskapai kesulitan mendapatkan keuntungan.

Daniel bilang, bahkan ada beberapa rute penerbangan yang tidak menghasilkan keuntungan untuk perseroan meskipun kursi penumpang terisi penuh.

Pasalnya, peningkatan lalu lintas udara yang mempengaruhi durasi tempuh pesawat membuat maskapai mengeluarkan biaya operasional lebih tinggi.

"Kami coba untuk patuh kepada regulasi, bahkan rute-rute yang memang di-TBA-nya kami tidak bisa untung 100 persen. Kalau ini kami dipaksakan untuk bisa mengikuti TBA, otomatis kami mungkin sama dengan yang lainnya, tidak sanggup untuk menjalankan rute tersebut," ujarnya saat rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR, Selasa, 28 Juni 2022.

Misalnya di rute Cengkareng-Tanjung Karang sebelum pandemi durasi tempuhnya hanya 35 menit namun karena adanya peningkatan trafik lalu lintas durasi tempuhnya menjadi 50-60 menit.

Kemudian, rute Bali-Lombok juga sangat rawan karena durasi penerbangannya sudah berubah.

"Ada rute dari Pontianak ke Putussibau itu juga harga tiketnya tidak bisa kita ambil untung. Dengan kondisi 100 persen pun itu kita juga masih belum mendapatkan profit, bahkan penuh pun belum bisa," jelasnya.

Daniel mengkhawatirkan jika TBA tiket pesawat tidak segera dinaikan, maka maskapai-maskapai dapat menghapus rute-rute penerbangan tersebut yang dirasa tidak menguntungkan.