Presiden Jokowi setidaknya memiliki tanggungjawab mensukseskan agenda internasional sebagai pemimpin G20. Di mana beberapa anggota G20 di antaranya Rusia dan AS serta beberapa negara Eropa merupakan bagian dari perang di Ukraina ini

Lawatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Ukraina-Rusia untuk dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin merupakan langkah yang berani, demi menyelamatkan penyelenggaraan KTT G20, dimana Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy, Shiska Prabawaningtyas mengungkapkan Indonesia sudah diputuskan sebagai pemimpin presidensi negara-negara G20, setelah Italia pada periode sebelumnya. 

Namun dalam perjalanannya kepemimpinan Indonesia dalam G20 ini diuji dengan masih merebaknya Pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 ditambah dengan pecahnya perang Rusia-Ukraina.

"Ini semakin membuat ketidakstabilan geopolitik dan ekonomi global. Karena itu Indonesia memiliki tanggungjawab agar pelaksanaan penyelenggaraan G20 November 2022 mendatang tetap berjalan dan diterima banyak negara anggotanya," kata Shiska dalam diskusi, Misi Perdamaian Jokowi, Sabtu (03/07/2022).

Selain memiliki mandat presidensi G20, Indonesia memiliki nilai warisan sejarah sesuai amanat Undang Undang (UU), yang bertanggung jawab menjaga ketertiban dunia, dalam bingkai politik luar negeri bebas aktif. 

Itulah amanat UU yang selalu menjadi rujukan Indonesia dalam berkiprah di dunia internasional.

Disadari memang kehadiran Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia, memang tidak bisa serta merta menghentikan perang Rusia-Ukraina. Karena ada latar yang panjang pergolakan geopolitik di Ukraina yang akhirnya Rusia memilih melakukan invasi ke Ukraina, yang dimulai pada 2014 lalu di wilayah Crimea.

Namun ia melihat Presiden Jokowi setidaknya memiliki tanggungjawab mensukseskan agenda internasional sebagai pemimpin G20. Di mana beberapa anggota G20 di antaranya Rusia dan AS serta beberapa negara Eropa merupakan bagian dari perang di Ukraina ini. 

Setelah beberapa ancaman dari beberapa negara tidak akan menghadiri KTT G20 ketika Presiden Rusia hadir di pertemuan tersebut.

"Ini menjadi konsen Presiden Jokowi, agar mandat ini tetap berjalan sukses," katanya.

Karena sesuai tema yang dibawa Indonesia 'Recover Together, Recover Stronger' tidak akan berjalan baik bila banyak anggota G20 yang memboikot gelaran pertemuan tersebut. 

Tentu itu juga akan menjadi catatan buruk bagi perjalanan presidensi Indonesia tahun ini, setelah beberapa kali memimpin G20 di tahun tahun sebelumnya.

Karena itu, ia menilai Presiden Jokowi memiliki target jangka pendek untuk bagaimana penyelenggaraan pertemuan KTT G20 pada November 2022 nanti tetap berjalan dengan lancar. Dengan harapan target utama, program pemulihan ekonomi setelah Pandemi kembali normal dan perang Ukraina-Rusia berakhir.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Paramadina Ahmad Khairul Umam menilai apa yang dilakukan Presiden Jokowi dalam kunjungan ke Ukraina dan Rusia bagian dari double track strategi. Karena ini pertaruhan yg besar bagi Indonesia sebagai tuan rumah G20.

"Krena ini bukan dalam kondisi yang normal, dengan kondisi dinamika yang sangat berbeda setelah Pandemi dan kondisi perang, Indonesia mendapat blessing in disguise," katanya.

Blessing in disguise yang ia maksudkan adalah berkah yang tersembunyi, bagaimana peran Indonesia sebagai negara non partisan sangat ditunggu banyak negara lain. Sehingga posisi Indonesia akan semakin strategis baik di sisi ekonomi global, maupun dalam peran perdamaian dunia.

Ia menyadari kehadiran Preside. Jokowi untuk jangka pendek dan menengah tidak akan menghentikan perang di Ukraina. Walaupun secara intensitas beberapa hari, peperangan sempat berhenti saat ada kunjungan Jokowi itu. Namun tentu dunia berharap lebih dari itu.

"Walaupun pemerintah Indonesia berharap dari kunjungan ini setidaknya jelang penyelenggaraan G20 menjadi momentum gencatan senjata, memulihkan sementara kondisi ekonomi global, syukur bisa menghentikan perang," jelasnya.

Karena dampak peperangan ini telah merusak rantai pasok barang di dunia terganggu dan harga harga komoditas mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Sehingga dengan kehadiran Jokowi, setidaknya menurut dia, membawa solusi multilateralisme, dimana membuang ego-ego negara besar demi menjaga kestabilan dunia.

"Apa yg dilakukan Presiden Jokowi telah memberikan harapan dan kontribusi yang positif bagi dunia, walaupun tidak segera menghasilkan sesuai harapan global. Namun setidaknya memastikan agenda G20 masih memberi harapan bagi perbaikan dunia," tegasnya.