Siapa bilang bisnis properti di China maju pesat? Kayaknya semakin kembang-kempis. Tak percaya?

Daftar perusahaan properti kakap China yang gagal bayar bertambah dengan munculnya Shimao Group Holdings Ltd .  

Dikutip dari Bloomberg, Senin (4/7/2022), Shimao Group Holdings Ltd yang merupakan perusahaan pengembang besar, mengalami gagal bayar surat utang senilai US$1 miliar. Atau setara Rp15 triliun (kurs Rp15.000 per US$).

Kejadian ini merupakan default pertama yang terjadi pada obligasi publik. Dan, Shimao yang dikenal sebagai pengembang yang membangun hotel berbintang lima di bekas area tambang itu, berutang US$5,5 miliar kepada obligasi luar negeri.

Sebelumnya, Evergrande Group, pengembang real estate terbesar di China, mengalami gagal bayar atas utang lebih dari US$300 miliar. Ini utang pengembang terbesar sejagad.

Atas utang ini, Evergrande harus menghadapi masalah hukum dengan banyak pihak. Salah satunya, gugatan dari Shanghai Construction Group, BUMN konstruksi China.

Pada pertengahan Februari 2022, pengadilan di China membekukan seluruh aset Avergrande yang nilainya cuman 640,4 juta yuan. Atau setara US$101 juta (sekitar Rp1,5 triliun). Jauh sekali dengan jumlah utangnya yang mencapai US$300 miliar.

Kembali menyoal Shimao yang merupakan pengembang properti terbesar ke-14 di China, keuangannya sudah terganggu sejak akhir 2021. Diduga imbas dari kolapse-nya Evergrande.  

"Penularan telah menyebar dari Evergrande ke Sunac dan sekarang Shimao. Itu menimbulkan kekhawatiran bahwa tingkat krisis utang berada di luar imajinasi pengamat pasar mana pun,” kata Kristy Hung, analis Bloomberg Intelligence.

Shimao telah mencoba menghindari default dengan menawarkan proposal rencana perpanjangan dengan menunjukkan situasi keuangan perusahaan yang lemah.

"Default diharapkan dengan baik setelah perusahaan melewatkan pembayaran obligasi swasta dolar dan menunda pembayaran utang dalam negeri," jelas ahli strategi kredit senior Asia di ANZ Bank China, Ting Meng.

Untuk melunasi utangnya Shimao menjual hampir 20 proyek properti. Sekaligus berharap agar dapat mempercepat arus kas masuk dari penjualan properti karena pasar properti menunjukkan tanda-tanda rebound. Penjualan rumah baru naik sekitar 31% pada Juni dari Mei di 30 kota utama China, menurut China Real Estate Information Corp.