Saat membeli barang atau jasa, posisi konsumen selalu kalah dan dirugikan. Khususnya saat beli properti. Sebaiknya berhati-hati.

Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) mencatat, pelanggaran hak konsumen pada periode 2021 hingga 1 Juli 2022 telah menimbulkan kerugian yang nilainya ditaksir mencapai Rp3,8 miliar

"Total kerugian hingga 31 Desember 2021 sebanyak lebih kurang Rp2,5 miliar dan hingga 1 Juli 2022 sebanyak Rp1,3 miliar," kata Anggota Komisi 2 Komunikasi dan Edukasi BPKN-RI Vivien Goh alam webinar di Jakarta, Selasa (20/7/2022).

Ia memaparkan, angka tersebut diperoleh berdasarkan 7.579 pengaduan yang diterima oleh BKPN selama periode 2017 hingga 1 Juli 2022.

Adapun rinciannya yakni 280 pengaduan pada 2017, 640 pengaduan pada 2018, 1.518 pengaduan pada 2019, kemudian 1.372 pengaduan pada 2020, 3.256 pengaduan pada 2021 dan pada 2022 terdapat 534 pengaduan terhitung hingga tanggal 1 Juli 2022.

Pengaduan tersebut juga terdiri dari 2.967 pengaduan di bidang perumahan, 2.826 pengaduan bidang jasa keuangan dan 1.039 pengaduan di bidang e-commerce.

Selanjutnya 215 pengaduan bidang jasa telekomunikasi, 129 pengaduan di bidang jasa transportasi dan 132 pengaduan di bidang elektronik, telematika dan kendaraan bermotor.

Bidang listrik dan gas rumah tangga juga diadukan sebanyak 68 kali, kemudian layanan kesehatan sebanyak 29 kali, obat dan makanan sebanyak 23 kali dan pengaduan di bidang lainnya sebanyak 398 pengaduan.