Namun Menteri Keuangan AS, Janet Yellen membantah negerinya mengsalami resesi. ia menegaskan ekonomi AS berada dalam keadaan transisi, bukan resesi, meskipun dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif

Amerika Serikat (AS) melaporkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB)-nya pada Triwulan II-2022 yang minus 0,9 persen secara tahunan, dengan kata lain pertumbuhan negatif dua kali berturut-turut selama dua kuartal dalam tahun yang sama.

Sebagaimana dilansir Biro Statistik dan Tenaga Kerja AS pada Kamis (28/07/2022), kontraksi tersebut terjadi di bawah konsensus, di mana AS diperkirakan masih mampu tumbuh positif sebesar 0,5 persen dalam tiga bulan kedua tahun ini.

Dengan demikian, secara teknis AS resmi masuk ke jurang resesi, mengingat pada triwulan sebelumnya Negeri Paman Sam bahkan telah mengalami minus hingga 1,6 persen.

Namun Menteri Keuangan AS, Janet Yellen membantah negerinya mengsalami resesi. ia menegaskan ekonomi AS berada dalam keadaan transisi, bukan resesi, meskipun dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif.

“Resesi, adalah pelemahan ekonomi kita yang luas yang mencakup PHK besar-besaran, penutupan bisnis, ketegangan dalam keuangan rumah tangga dan perlambatan aktivitas sektor swasta,” tegas Yellen, Jumat (29/07/2022).

“Itu bukan apa yang kita lihat sekarang … Ketika Anda melihat ekonomi, penciptaan lapangan kerja terus berlanjut, keuangan rumah tangga tetap kuat, konsumen belanja dan bisnis tumbuh,” tambahnya.

Namun Yellen mengakui beban yang ditanggung oleh harga yang lebih tinggi. AS mencatat Inflasi naik menjadi 9,1% di Juni.

Yellen mengaitkan kenaikan inflasi dengan perang di Ukraina, masalah rantai pasokan, dan pandemi Corona Virus Desease atau COVID-19. Ia mengatakan bahwa pemerintah fokus untuk mengatasi situasi tersebut.

“Kami tahu ada tantangan di depan kami. Pertumbuhan melambat secara global. Inflasi tetap sangat tinggi, dan merupakan prioritas utama pemerintahan ini untuk menurunkannya,” tegas Janet Yellen lagi.