Suryadi Sasmita mengatakan, masyarakat kelas menengah ke bawah dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) masih membutuhkan subsidi BBM. Menurut dia, jika subsidi dicabut, maka daya beli otomatis menurun

Pengusaha meminta pemerintah tidak mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryadi Sasmita dalam Prospek Pemulihan Ekonomi Indonesia di Tengah Perubahan Geopolitik Pasca Pandemi, Rabu (03/08/2022).

Lebih jauh Suryadi Sasmita mengatakan, masyarakat kelas menengah ke bawah dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) masih membutuhkan subsidi BBM. Menurut dia, jika subsidi dicabut, maka daya beli otomatis menurun.

"Kebijakan yang sensitif subsidi BBM akan dicabut dan sebagainya," ujar Suryadi 

Logikanya, kata dia, harga BBM pertalite dan solar yang selama disubsidi jelas akan melonjak jika bantuan dari pemerintah dicabut. Alhasil, biaya yang dibutuhkan masyarakat untuk membeli BBM akan bertambah.

Jika sudah begitu, maka kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan yang lain berkurang. Kegiatan ekonomi otomatis terganggu.

"Ini merupakan suatu kekhawatiran kalau tidak disubsidi maka akan kena UMKM. Tapi kalau subsidi terus, kita punya fiskal cukup atau tidak," terang Suryadi.

Namun, pengusaha meminta pemerintah terus mengucurkan insentif sampai tahun depan, khususnya subsidi BBM.

"Kalau bisa (insentif) untuk BBM juga jangan dihilangkan, ini subsidi untuk rakyat dan mempengaruhi daya beli," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan Rofyanto Kurniawan mengatakan bahwa subsidi BBM dan listrik tidak efisien. Hal itu membuat belanja tak produktif.

"Kita harus mendorong belanja produktif. Subsidi BBM dan subsidi listrik itu tidak efisien," ungkap Rofyanto.

Sementara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan total alokasi subsidi BBM sebesar Rp502 triliun. Angka itu melonjak dari rancangan awal yang hanya Rp170 triliun.

"Perlu kita ingat subsidi terhadap BBM sudah terlalu besar dari Rp170 triliun sekarang sudah Rp502 triliun. Negara mana pun tidak akan kuat menyangga subsidi sebesar itu," ungkap Jokowi.

Meski sudah membengkak, Jokowi mengatakan pemerintah masih akan terus memberikan subsidi agar harga BBM tak naik di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.

Ia menambahkan bahwa harga BBM di negara lain mencapai Rp32 ribu per liter. Angka itu jauh lebih tinggi dari harga BBM penugasan pertalite yang masih di level Rp7.650 per liter.