Sri Mulyani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga dapat terkena imbas dari geopolitik global, bukan hanya dari perang Rusia-Ukraina. Namun juga isu perang yang makin mendekat dari China-Taiwan

Krisis akibat pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun, relatif berhasil dilalui oleh Indonesia. Roda perekonomian pun mulai kembali bergerak menuju pemulihan seiring dengan penanganan kondisi pandemi yang makin membaik.

Akan tetapi, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengingatkan, masih terdapat beberapa hal yang harus diwaspadai. Hal itu berasal dari faktor eksternal yang berasal dari luar negeri. Sebab, negara-negara dengan perekonomian yang berpengaruh di dunia akan mempengaruhi ekonomi Tanah Air.

"Spill over dari negara-negara advance dari ekonomi maupun aturan yang diadopsi mereka," jelas Sri Mulyani dalam Soft Launching Buku: Keeping Indonesia Safe From COVID-19, dikutip Senin (08/08/2022). 

Selain itu, lanjutnya, Sri Mulyani juga mengingatkan bahwa Indonesia juga dapat terkena imbas dari geopolitik global, bukan hanya dari perang Rusia-Ukraina. Namun juga isu perang yang makin mendekat dari China-Taiwan.

"Perang dan geopolitik lebih sulit diprediksi," tegas Sri Mulyani.

Selanjutnya, Sri menyebutkan, yang harus diwaspadai berikutnya adalah perubahan iklim. Dia menyebutkan banyak negara yang mengalami kekeringan dan hingga saat ini tidak ada yang membantu. Selain itu, di India suhu mencapai 41 derajat celcius, termasuk juga di Eropa.

Sri mengingatkan agar tidak menganggap mudah perubahan iklim selain juga soal digital technology yang menjadi hal yang harus diwaspadai keempat. Sebagai suatu negara yang terbuka, Indonesia harus perhatian dengan dinamika yang terjadi secara global yang memberikan dampak.

"Perubahan dari peraturan ekonomi, perubahan iklim, dan teknologi digital serta jangan lupa juga dengan demografi. Demografi tidak bisa terus bertahan, jadi ini faktor yang permanen akan bersama kita," tegas Sri.

Dengan demikian, Sri berharap orang bisa melihat hal-hal ini agar pertumbuhan ekonomi terjaga, apalagi Indonesia berhasil tumbuh mencapai 5,44%. Ini menandakan ekonomi Indonesia ada di posisi yang bagus.

"Kita berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi 5,44%," ungkap Sri Mulyani.

Pendorong utama ekonomi tumbuh melesat adalah konsumsi rumah tangga yang pertumbuhannya mencapai 5,51% dan distribusi 51,47%. Didukung oleh adanya momen Ramadan dan Idulfitri.

Selanjutnya adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh 3,07% atau distribusi 27,31% dan ekspor tumbuh 19,74% atau distribusi 24,6%.

Peningkatan ekspor disebabkan oleh lonjakan harga komoditas internasional, baik batu bara, nikel, tembaga hingga minyak kelapa sawit.

Sementara itu konsumsi pemerintah justru kontraksi 5,24%. "Government spending kontraksi dua kuartal berturut-turut, bukan karena defisit mengecil," terang Sri Mulyani.

Pada sisi lain, inflasi juga terjaga imbas kebijakan pemerintah yang memberikan subsidi energi sebesar Rp 520 triliun. Sehingga inflasi masih tertahan pada level 4,9%.