citra lembaga antirasuah berada di titik paling rendah dalam lima tahun terakhir.

Plt Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ali Fikri menanggapi hasil survei Litbang Kompas yang menyebut citra lembaga antirasuah berada di titik paling rendah dalam lima tahun terakhir.

Dikatakan, keberhasilan memberantas korupsi tidak hanya dilihat dari jumlah koruptor yang ditangkap.

Menurut Ali, keberhasilan pemberantasan korupsi juga dilihat dari sikap masyarakat terhadap perilaku korupsi.

"Oleh karenanya, KPK penting menguatkan pemberantasan korupsi tidak hanya melalui strategi represif, tapi juga strategi preventif dan edukatif," kata Ali dalam pesan tertulisnya kepada wartawan, Senin (08/08).

Ali mengatakan, salah satu hasil survei tersebut menyebut bahwa mayoritas masyarakat masih berharap kinerja KPK bisa membaik ke depan.

Menurut Ali, hal ini merupakan bentuk dukungan publik kepada KPK dalam meningkatkan pemberantasan korupsi.

Selain itu, menurut Ali, persepsi publik atas pemberantasan korupsi itu selaras dengan Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

“IPAK yang baru dirilis oleh BPS pekan lalu, yang menunjukkan tren peningkatan positif,” kata Ali.

Adapun IPAK mengukur perilaku korupsi yang dialami atau dirasakan masyarakat. Survei tersebut melihat pengalaman dan persepsi responden.

Berdasarkan survei BPS, kata Ali, skor IPAK tahun 2022 meningkat 0,05 poin menjadi 3,93. Pada 2021, skor IPAK berada di angka 3,88.

Ali mengatakan, IPAK menggunakan skala indeks 0 hingga 5. Skor 0-1,25 menunjukkan responden sangat permisif terhadap korupsi.

Sementara itu, skor di atas 3,76 hingga 5,00 menunjukkan responden sangat anti terhadap korupsi. "Maka, skor IPAK 2022 dikategorikan sangat antikorupsi," ujar Ali.

Jajak pendapat Libang Kompas memperlihatkan bahwa citra komisi antirasuah berada di titik paling rendah dalam lima tahun terakhir.

Peneliti Litbang Kompas Rangga Eka Sakti mengatakan, berdasarkan survei yang dilakukan pada periode 19-21 Juli kemarin, citra KPK menunjukkan tren menurun.

Survei tersebut dilakukan di 34 provinsi melalui sambungan telepon dengan jumlah responden 502 orang.

"Citra KPK terekam berada di angka 57 persen, paling rendah dalam lima tahun terakhir," kata Rangga sebagaimana dikutip dari Harian Kompas edisi Senin (08/08).

Angka ini turun cukup jauh jika dibanding hasil Survei pada Januari 2015. Saat itu tercatat citra KPK berada di angka 88,5 persen. Citra itu menurun menjadi 68,8 persen pada Oktober tahun yang sama.

Pada April 2017, citra KPK naik menjadi 84,8 persen dan 87,3 persen pada Oktober 2017. Sementara pada Pada Agustus 2020 citra KPK kembali turun ke angka 65,8 persen dan meningkat pada Agustus 2020 di angka 76,9 persen pada April 2021.

Citra KPK kembali merosot pada Oktober 2021 dan naik pada Januari 2022 di angka 76,9 persen.

"Citra lembaga ini cenderung menurun, terutama setelah Undang-Undang KPK direvisi pada September 2019," kata Rangga.

Meski demikian, kata Rangga, publik masih berharap KPK era kepemimpinan Firli Bahuri masih bisa membaik hingga akhir masa jabatannya di tahun 2023.

Harapan ini, menurut survei tersebut, tumbuh karena dua hal, yakni operasi tangkap tangan (OTT). Seperti dilansir kompas, operasi ini masih dinilai efektif menangkap koruptor. Sementara, faktor kedua adalah publik menilai anggota KPK masih bisa dipercaya.

Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan 59 persen responden meyakini kinerja KPK di bawah kepemimpinan Firli Bahuri bisa membaik hingga akhir masa jabatannya pada 2023 nanti.