Pertamina ada di peringkat pertama, PLN di nomor dua, lalu di peringkat empat dan lima ada BRI dan Telkom Indonesia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menanggapi masuknya sejumlah perusahaan pelat merah di daftar teratas perusahaan terbesar di Tanah Air versi Fortune. 20 dari 100 perusahaan terbesar yang dirilis Fortune merupakan perusahaan BUMN.

Erick Thohir menyampaikan, hal ini merupakan pencapaian luar biasa dan bukti nyata dari keberhasilan transformasi di BUMN.

"Alhamdulillah, transformasi ini dapat berkontribusi lebih bagi negeri. Kita bisa lihat dalam daftar tersebut, lima besar didominasi BUMN," ujar Menteri BUMN Erick Thohir di Jakarta, Kamis (11/08).



Pertamina ada di peringkat pertama, PLN di nomor dua, lalu di peringkat empat dan lima ada BRI dan Telkom Indonesia. Di luar itu, ada Bank Mandiri di peringkat enam dan MIND ID yang menduduki posisi sepuluh. 

Selain nama-nama di atas, ada Pupuk Indonesia di peringkat 13, BNI peringkat 14, Semen Indonesia peringkat 26, dan Pelabuhan Indonesia (Pelindo) peringkat 27. Sementara Krakatau Steel berada di urutan 30, BTN 32, KAI 46, Wijaya Karya 47, PT PP 50, Jasa Marga 60, Kimia Farma 72, Waskita Karya 78, dan Adhi Karya 83.

Menurut mantan Presiden Inter Milan itu, laporan Fortune ini sesungguhnya memberikan gambaran positif bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, kata Erick, sebanyak 80 perusahaan dalam 100 teratas berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada 2021.

Padahal pada daftar yang sama tahun 2020, hanya 30 perusahaan yang berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan.

"Yang menarik, Fortune menilai pembentukan sejumlah holding BUMN memiliki dampak besar dalam peningkatan pertumbuhan pendapatan bagi BUMN," ujar Erick.

Transformasi BUMN juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,44 persen y-o-y dalam kuartal II 2022, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (5/8). Dengan total aset BUMN yang mencapai sekitar Rp 9.000 triliun pada 2021, kontribusi BUMN terhadap PDB mencapai 53 persen. 

Yang menarik, selain mencatatkan pertumbuhan laba, BUMN tetap menjalankan fungsinya sebagai motor penggerak proyek-proyek yang menyerap tenaga kerja di tengah sikap pesimistis masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19. 

Selama pandemi, lanjut Erick, BUMN secara masif telah mampu membuka lapangan kerja dalam sejumlah proyek besar besar, seperti proyek peningkatan kilang atau refinery development master plan (RDMP) Balikpapan yang menyerap 19 ribu tenaga kerja.

Kemudian hilirisasi batubara menjadi DME yang menyerap 10 ribu tenaga kerja, smelter tembaga Freeport Gresik yang menyerap hingga 40 ribu tenaga kerja, pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang mencatatkan penyerapan hingga 200 ribu tenaga kerja.

Serta pembangunan KEK Mandalika di mana InJourney selaku core dari penyelenggaraan event internasional MotoGP mampu menyerap 4.500 tenaga kerja lokal.

Tapi yang paling spektakuler sebenarnya adalah penyerapan tenaga kerja melalui PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang mampu menciptakan lapangan kerja bagi 12,7 juta ibu-ibu pada 2021 dan akan didorong hingga mencapai jumlah 20 juta hingga 2024. 

"BUMN sebagai sepertiga kekuatan ekonomi Indonesia harus mampu tampil dalam menjaga pertumbuhan ekonomi, keseimbangan pasar, dan yang terpenting memastikan pembukaan lapangan kerja dapat terus terjadi," kata Erick.

Diketahui, majalah Fortune Indonesia, merilis daftar seratus perusahaan yang masuk dalam daftar perusahaan terbesar di Indonesia berdasarkan tahun fiskal 2021.

Perusahan yang masuk dalam daftar ini tidak hanya terdiri dari perusahaan terbuka di Indonesia, namun juga perusahaan tertutup.

Dalam keterangan resminya, Majalah Fortune Indonesia menyampaikan, total pendapatan dari seratus perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune Indonesia 100 ini pun mencapai Rp4.381,41 triliun, naik 20,62 persen dibandingkan tahun lalu.

Perusahaan yang bisa masuk dalam daftar ini harus memiliki pendapatan setidaknya Rp8,41 triliun-hanya Rp6,5 triliun pada tahun lalu.

Dari sisi kinerja, perusahaan di Indonesia terus mengarah ke teritori positif. Ini terlihat hanya 30 persen saja perusahaan yang berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan pada tahun lalu.

Namun, tahun ini, sebanyak 80 persen di antaranya berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja, baik dari sisi pendapatan atau laba bersih.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Indonesia 2021 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp16.970,8 triliun.

Artinya total pendapatan 100 perusahaan raksasa ini mewakili 25,81 persen atau lebih dari seperempat perekonomian Indonesia.

Menariknya, dari total pendapatan Rp4.381,41 triliun, sekitar 48,84 persen di antaranya disumbang oleh 19 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masuk dalam daftar Fortune Indonesia 100.



"Terbentuknya sejumlah holding BUMN membuat beberapa perusahaan pelat merah memiliki kontribusi pendapatan yang signifikan," kata Hendra Soeprajitno, Editor in Chief Fortune Indonesia, dalam siaran pers.


Berikut ini nama-nama perusahaan yang masuk daftar 100 perusahaan terbesar di Indonesia versi Majalah Fortune Indonesia:

1. Pertamina
2. Perusahaan Listrik Negara (PLN)
3. Astra International
4. Bank Rakyat Indonesia (BRI)
5. Telkom Indonesia
6. Bank Mandiri
7. Gudang Garam
8. Indofood Sukses Makmur
9. Hanjaya Mandala Sampoerna
10. Mind ID
11. Bank Central Asia (BCA)
12. Sumber Alfaria Trijaya
13. Pupuk Indonesia
14. Bank Negara Indonesia (BNI)
15. Sinar Mas Agro Resources & Technology
16. Adaro Energy
17. Charoen Pokphand Indonesia
18. Indah Kiat Pulp & Paper
19. Barito Pacific
20. Japfa Comfeed Indonesia
21. Indika Energy
22. Erajaya Swasembada
23. Bayan Resources
24. Unilever Indonesia
25. Sinar Mas Multiartha
26. Semen Indonesia (SIG Group)
27. Pelabuhan Indonesia (Pelindo)
28. Indosat Ooredoo Hutchison
29. Dian Swastatika Sentosa
30. Krakatau Steel
31. Indo Tambangraya Megah
32. Bank Tabungan Negara
33. Mayora Indah
34. XL Axiata
35. Kalbe Farma
36. Saratoga Investama Sedaya
37. AKR Corporindo
38. Prudential Life Assurance
39. Bank Danamon Indonesia
40. Bank CIMB Niaga
41. Asuransi Allianz Life Indonesia
42. Indomobil Sukses Internasional
43. Medco Energi Internasional
44. Metrodata Electronics
45. Mitra Adiperkasa
46. Kereta Api Indonesia
47. Wijaya Karya
48. FKS Multi Agro
49. Bank Pan Indonesia
50. PT PP
51. MNC Investama
52. Bank BTPN
53. Lippo Karawaci
54. Tunas Baru Lampung
55. AIA Financial
56. Indolife Pensiontama
57. Manulife Indonesia
58. Capital Financial Indonesia
59. Gajah Tunggal
60. Jasa Marga
61. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten
62. Indocement Tunggal Prakarsa
63. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia 
64. ABM Investama
65. Bumi Resources
66. Catur Sentosa Adiprana
67. Bank Permata
68. Bank OCBC NISP
69. Vale Indonesia
70. Delta Dunia Makmur
71. Mitra Pinasthika Mustika
72. Kimia Farma
73. Elang Mahkota Teknologi
74. Bank Maybank Indonesia
75. M-Cash Integrasi
76. Indo-Rama Synthetics
77. Kirana Megatara
78. Waskita Karya
79. Tunas Ridean
80. Sri Rejeki Isman
81. Fajar Surya Wisesa
82. Tigaraksa Satria
83. Adhi Karya
84. Bank Mega
85. Tempo Scan Pacific
86. Smartfren Telecom
87. Multipolar
88. Gunung Raja Paksi
89. Tembaga Mulia Semanan
90. Prima Andalan Mandiri
91. Baramulti Suksessarana
92. Pan Brothers
93. Putra Mandiri Jembar
94. Ciputra Development
95. Samudera Indonesia
96. Malindo Feedmill
97. Uni-Charm Indonesia
98. Garudafood Putra Putri Jaya
99. Sarana Menara Nusantara
100. Bentoel Internasional Investama.