Salaman Rusdhie  menggunakan ventilator atau alat bantu nafas saat ini. Ia tengah sekarat

Insiden mengerikan terjadi di panggung acara sastra yang digelar di Chautauqua Institution, New York, Jumat (12/08) lalu. Salman Rushdie, penulis buku The Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan, ditikam sebanyak 15 kali.

Acara tersebut terbuka untuk umum dan dihadiri oleh ribuan orang. Salman Rushdie ditikam setelah ia diperkenalkan oleh pembawa acara untuk naik ke atas panggung. Novelis tersebut akan memberikan kuliah soal kebebasan berekspresi.

Saat Salman Rushdie di atas panggung, tak lama kemudian pelaku merangsek naik ke atas panggung. Salman Rushdie ditikam hingga 15 kali oleh pelaku. Seolah tak puas, pelaku juga meninju berulang kali.



Panggung acara sastra tersebut berubah menjadi banjir darah. Para peserta yang hadir untuk mengikuti acara diskusi berlarian, dan berhamburan ke luar acara. Petugas keamanan setempat langsung meringkus dan mengamankan pelaku di lokasi kejadian.

Akibat insiden tersebut, Salman Rushdie mengalami luka parah di bagian dada dan leher. Literary agent Salman Rushdie, Andrew Wylie, yang mengurusi penerbitan karya-karyanya mengatakan kondisi kesehatan sang novelis belum stabil.

Waylie mengatakan, Salaman Rusdhie  menggunakan ventilator atau alat bantu nafas saat ini. Ia tengah sekarat. Organ tubuhnya mengalami kerusakan parah, hatinya rusak, ada beberapa bagian saraf di lengan yang terputus, dan kemungkinan besar bakal kehilangan penglihatan.

Pelaku penikaman teridentifikasi bernama Hadi Matar. Dalam sidang dakwaan, Sabtu (13/08), jaksa wilayah, Jason Schmidt menilai, penyerangan Hadi Matar terhadap Salman Rushdie sudah direncanakan.

Hadi Matar didakwa melakukan percobaan pembunuhan atas Salman Rushdie. "Ini merupakan serangan yang sudah ditargetkan, tidak diprovokasi, dan sudah direncanakan," kata Schmidt, seperti diberitakan AP.

Schmidt mengatakan Matar melakukan langkah-langkah dengan sengaja menempatkan dirinya dalam posisi untuk menyakiti Rushdie. Langkah-langkah tersebut berupa memperoleh izin masuk ke acara tempat Rushdie akan memberikan kuliah, serta tiba lebih awal dengan membawa identitas palsu.

"Bahkan jika pengadilan ini menetapkan jaminan satu juta dolar, kami menghadapi risiko bahwa jaminan dapat dipenuhi," kata Schmidt.

"Sumber dayanya tidak penting bagi saya. Kami memahami bahwa agenda yang dilakukan kemarin adalah sesuatu yang diadopsi dan disetujui oleh kelompok dan organisasi yang lebih besar jauh di luar batas yurisdiksi Wilayah Chautauqua," katanya. 

Usai Schmidt menyampaikan tuntutan, Hakim memerintahkan Hadi Matar ditahan tanpa jaminan.



Dalam kesempatan yang sama, pengacara Hadi Matar, Nathaniel Barone, juga membacakan pembelaan atas nama pria 24 tahun tersebut.

Barone menilai bahwa pihak kepolisian terlalu lama dalam mengurus peradilan Matar sementara kliennya ditahan di "barak kantor polisi". "Matar punya hak konstitusional dianggap tidak bersalah," kata Barone.

Hadi Matar lahir di Amerika Serikat dari orang tua Lebanon yang beremigrasi dari Yaroun, sebuah desa perbatasan di Lebanon selatan, kata Walikota Ali Tehfe kepada AP. Matar tinggal di Fairview, New Jersey.

Nama Salman Rushdie dikenal karena novel The Satanic Verses disebut menghina Nabi Muhammad. Mantan Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini mengucapkan ancaman untuk Salman pada 14 Februari 1989.

Novel keempat sang penulis menceritakan tokoh utama yang bernama Mahound (yang kemungkinan besar merujuk pada Muhammad) diceritakan secara kilas balik paralel dengan dua tokoh utama lainnya Gibreel Farishta dan Saladin Chamcha.

Sebagian ceritanya terinspirasi dari kisah hidup Muhammad. Namun bagi umat muslim, novelnya dianggap penuh SARA hingga tak boleh beredar di India dan menyulut kerusuhan di Pakistan.

Dia sempat tinggal di Inggris kemudian bersembunyi di New York selama lebih dari 3 dekade. Selama bersembunyi, ia menggunakan nama samaran dan jarang muncul ke publik namun sejak 11 September 2001 ia mulai berani muncul dan bersuara.