Hal itu lantaran berdampak luas dan membekas di benak penganutnya dalam masa yang panjang

Kasus penikaman terhadap penulis novel Satanic Verses atau Ayat-ayat Setan oleh Hadi Matar di Chautauqua Institution, New York, Jumat (12/08) lalu, jadi pelajaran penting bagi Indonesia.

Pendapat itu dikemukakan, pakar pendidikan sekaligus Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jakarta, Prof Dr Agus Suradika. Menurutnya, jangan pernah menyinggung dan menghina simbol keyakinan agama. Hal itu lantaran berdampak luas dan membekas di benak penganutnya dalam masa yang panjang.

"Kasus itu memang kasus usaha pembunuhan terhadap Salman Rushdie. Namun ini juga menyadarkan umat Islam yang ternyata tetap masih punya 'ghirah' (semangat tinggi) dalam membela penodaan terhadap agamanya, kata Suradika, di Jakarta, Minggu (14/08).

"Jadi jangan disangka ini tindakan sekedar emosional semata, tapi ini berkelindan dengan sikap kaum Muslim yang masih sangat peduli dengan ajarannya. Inilah yang membedakannya," kata dia.

Suradika mengatakan, umat Islam itu selama ini diharamkan mengusik kepercayaan orang lain. Mereka paham juga bahwa yang menjaga ajarannya adalah Allah Swt.

Meski demikian, kata dia, harus diingat dalam ayat Alquran yang kalimat yang dipakai adalah menggunakan kata 'kami', yakni Allah dan manusia. Maka jelas di sana selain Allah manusia juga campur tangan dalam soal menjaga agamanya.

"Maka saya tidak heran bila fatwa Imam Khomeini tahun 1988 yang menyatakan Salman Rushdi terancam hukuman dibunuh atas ulahnya, sampai kini ada yang mentaatinya. Apalagi dia juga ulama penting dalam keyakinan Umat Islam dengan mahzab syiah. Saya duga penusuknya di Amerika itu penganut syiah," tegasnya.

Selain itu, sama halnya dengan di Indonesia, semua kejadian penghinaan atau mengolok-olok simbol sebuah agama harus dihindari. Aparat keamanan harus bertindak tegas bila terjadi itu dan selama ini pun di Indonesia sudah ditegakkan hukumnya dengan baik dan adil. Suradika seperti dikutip republika mengatakan, sikap memainkan keyakinan agama sangat membahayakan bangsa.

"Itulah pelajaran bagi kasus usaha pembunuhan terhadap Salman Rushdi yang dari dahulu menghebohkan tersebut. Sekali lagi jangan samakan dengan pihak lain, umat Islam itu masih tinggi rasa kepeduliannya terhadap ajaran agamanya," katanya.

"Mereka pasti akan sakit hati bila simbol agamanya diolok-olok. Marilah kita hormati keyakinan semua agama. Kita rawat dan jaga eksistensi bangsa ini dengan sepenuh hati," ucap Suradika menegaskan.

Diketahui, Salman Rushdie ditikam sebanyak 15 kali oleh Hadi Matar di panggung acara sastra yang digelar di Chautauqua Institution, New York.

Saat itu Salman Rushdie ditikam setelah ia diperkenalkan oleh pembawa acara untuk naik ke atas panggung. Novelis tersebut akan memberikan kuliah soal kebebasan berekspresi.

Petugas keamanan langsung meringkus Hadi Matar dan mengamankan pria asal Fairview, New Jersey itu di lokasi kejadian.

Akibat penikaman, Salman Rushdie mengalami luka parah di bagian dada dan leher. Organ tubuhnya mengalami kerusakan parah, hatinya rusak, ada beberapa bagian saraf di lengan yang terputus, dan kemungkinan besar bakal kehilangan penglihatan.

Nama Salman Rushdie dikenal secara luas sejak dekade '90-an, terutama di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim. Novel kontroversialnya, The Satanic Verses alias Ayat Ayat Setan yang rilis pada 1988, memicu kemarahan umat Islam.

Novel pria kelahiran Bombay,19 Juni 1947 itu begitu kontroversial karena dinilai menghina umat Islam dan Nabi Muhammad

Novel yang mendapatkan penghargaan Whitbread Award pada 1988 dan populer di Inggris tersebut membuahkan berbagai kecaman hingga ancaman pembunuhan untuk Rushdie.

Ia bahkan harus mendapat perlindungan Pemerintah Inggris dari ancaman pembunuhan.

Puncaknya, mantan Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan ultimatum kematian untuk Salman Rushdie pada 14 Februari 1989.

Namun pemerintah Iran secara formal mencabut dukungan untuk fatwa hukuman mati untuk Rushdie itu pada 1998.

Meski begitu, sentimen anti-Rushdie masih tetap ada dan masih banyak organisasi Iran yang menawarkan hadiah uang dalam jumlah besar untuk pembunuhan Rushdie.