Dia tidak lagi diakui sebagai WNI karena kebijakan tahun 1965

Identitas peretas Bjorka perlahan-lahan mulai terungkap. Sang hacker memiliki teman asal Indonesia yang tinggal di Warsawa, Polandia. Ia pun mulai menguak motif di balik aksinya.

Bjorka mengatakan aksi peretasan yang dilakukan adalah sebagai bentuk demonstrasi di era yang baru.

"Pemimpin tertinggi dalam teknologi harusnya ditugaskan kepada seseorang yang mengerti, bukan politis dan bukan seseorang dari angkatan bersenjata. Karena mereka hanyalah orang bodoh," cuitnya di akun Twitter @bjorkanism pada Minggu (11/09) kemarin, sebelum akunnya ditangguhkan.

Lebih lanjut, dia bercerita tentang betapa mudah bagi dirinya untuk menjebol sistem keamanan yang dikelola pemerintah Indonesia

"Saya hanya ingin menunjukkan betapa mudahnya bagi saya untuk masuk ke berbagai pintu karena kebijakan perlindungan data yang buruk. Apalagi jika dikelola oleh pemerintah," cuit Bjorka.

Bjorka sempat membocorkan sedikit identitasnya. Ia memgaku bukan orang Indonesia. Namun, ia mengetahui tentang segala macam kekacauan di Indonesia melalui seorang temannya asal Indonesia yang menetap di Warsawa, Polandia.

Bahkan Bjorka menyebut, aksi peretasan ini dilakukan sebagai bentuk dedikasi untuk kawannya tersebut. 

"Saya punya teman orang indonesia yang baik di Warsawa, dan dia bercerita banyak tentang betapa kacaunya indonesia. Saya melakukan (peretasan) ini untuknya," kata Bjorka.

"Ya, jangan repot-repot melacak dia dari kementerian luar negeri. Karena Anda tidak akan menemukan apa pun. Dia tidak lagi diakui sebagai WNI karena kebijakan tahun 1965," kata Bjorka.

Dia menambahkan, temannya tersebut adalah kakek tua yang sangat cerdas dan mengurus dirinya sejak dia lahir.

"Tahun lalu dia meninggal. Orang tua ini telah merawat saya sejak saya lahir, dan ingin pulang ke Indonesia untuk memberikan sumbangsih terhadap dunia teknologi. Walau dia tahu betapa sedihnya untuk dapat menjadi seseorang seperti BJ Habibie."

Sayangnya hal tersebut tidak terwujud hingga akhir hayatnya tahun lalu. "Dia tidak punya waktu untuk melakukannya sampai akhirnya meninggal dengan damai," ujar Bjorka.

"Tampaknya rumit untuk melanjutkan mimpinya dengan cara yang benar, jadi saya lebih suka melakukannya dengan cara ini. Kita memiliki tujuan yang sama, agar negara tempat ia dilahirkan bisa berubah menjadi lebih baik. Senang bertemu kalian," cuitnya.

Terhitung sejak Minggu (11/09) siang kemarin, Akun twitter @bjorkanism sendiri sudah tidak bisa diakses lagi. "Account suspended," jelas keterangan Twitter. 

Akunnya tumbang tak lama usai cuitan terakhirnya yang mengungkap nama terduga pembunuh aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Munir, yang tewas dibunuh di pesawat pada 7 September 2004. 

Bjorka sebelumnya menghebohkan jagat maya Tanah Air, setelah ia mengklaim telah meretas data-data terkait kependudukan Indonesia.

Bjorka juga mengaku dirinya telah membobol data surat menyurat Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Berukuran 189MB, ada sekitar 679.180 data berisikan dokumen kepresidenan dimana beberapa diantaranya termasuk surat dari Badan Intelijen Negara (BIN).