Merujuk data Biro Statistik Nasional China, memang terjadi sebuah rekor, di mana ada 10,76 juta lulusan perguruan tinggi yang memasuki pasar kerja secara bersamaan tahun ini. Padahal, ekonomi China sedang lesu untuk menyerap tenaga kerja

China menghadapi era pengangguran massal akibat pandemi Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19. Hal ini banyak terjadi pada mereka yang baru saja lulus dari perguruan tinggi. Demikian, seperti dikutip, Senin (19/09/2022).

Sebut saja Cherry (22), baru saja akan lulus dari sebuah Universitas di Wuhan. Dirinya yang sempat magang di perusahaan bergengsi pada Mei tahun lalu, harus menelan pil pahit.

Perusahaan tempatnya magang yang menawarkan dia menjadi karyawan penuh waktu saat lulus, mendadak memberi kabar bahwa tawaran yang sebelumnya diberikan, dibatalkan. Alasannya, karena perusahaan harus menyesuaikan bisnis dengan kondisi saat ini.

Cherry mengatakan tak hanya dia yang menerima kabar tersebut, tapi teman-teman seperjuangannya juga. 

"Saya pikir itu karena pandemi. Sebagian besar perusahaan terdampak oleh kebijakan lockdown COVID tahun ini," ujarnya.

China memang kembali melakukan lockdown awal tahun ini karena terjadi kenaikan kasus COVID-19 yang berdampak negatif bagi perusahaan swasta di negaranya. Terlebih, kondisi pelaku usaha belum pulih sejak COVID-19 muncul tiga tahun lalu.

"Kami fresh graduate pasti angkatan pertama yang di-PHK, karena kami baru bergabung di perusahaan dan belum banyak berkontribusi," kata Cherry.

Merujuk data Biro Statistik Nasional China, memang terjadi sebuah rekor, di mana ada 10,76 juta lulusan perguruan tinggi yang memasuki pasar kerja secara bersamaan tahun ini. Padahal, ekonomi China sedang lesu untuk menyerap tenaga kerja.

Kondisi ini membuat tingkat pengangguran kaum muda China berulang kali mencapai level tertinggi baru. Tahun ini, naik dari 15,3 persen pada Maret ke rekor 18,2 persen pada April. Angka ini terus naik dalam beberapa bulan ke depan dan mencapai 19,9 persen pada Juli.

Tingkat pengangguran milenial memang sempat turun sedikit menjadi 18,7 persen pada Agustus, tetapi masih pada level tinggi.

Berdasarkan statistik resmi yang menempatkan populasi pemuda perkotaan sebesar 107 juta, saat ini ada sekitar 20 juta orang berusia 16 hingga 24 tahun yang kehilangan pekerjaan di kota-kota besar China. Pengangguran pedesaan tidak termasuk dalam data resmi.

"Ini tentu saja merupakan krisis pekerjaan terburuk bagi kaum muda di China (dalam lebih dari empat dekade)", kata Willy Lam, rekan senior Yayasan Jamestown di Washington D.C.

"Pengangguran massal merupakan tantangan besar bagi Partai Komunis," katanya, seraya menambahkan bahwa menjaga pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pekerjaan adalah kunci legitimasi Partai.

Krisis pengangguran di China juga tercermin dari kondisi raksasa teknologi di negara tersebut. Sebelumnya, perusahaan tersebut tak pernah melalukan PHK tapi, karena COVID-19, keadaan harus berbalik.

Alibaba (BABA) e-commerce dan raksasa cloud, misalnya, baru-baru ini membukukan pertumbuhan pendapatan yang datar untuk pertama kalinya sejak menjadi perusahaan publik delapan tahun lalu. Hal ini membuat perusahaan mengurangi tenaga kerjanya lebih dari 13 ribu dalam enam bulan pertama tahun ini.

"PHK di industri teknologi terbaru ini tidak dapat diremehkan," kata Craig Singleton, rekan senior China di Foundation for Defense of Democracies yang berbasis di DC.

Namun, industri teknologi bukan satu-satunya sektor yang menderita akibat COVID-19. Dalam beberapa bulan terakhir, PHK massal telah melanda industri China yang berkembang pesat, mulai dari les privat hingga real estat.

Ini bisa menjadi masalah besar bagi Presiden Xi Jinping dan pemerintahannya, yang mencirikan ketenagakerjaan sebagai prioritas kebijakan utama.

"Ada indikasi yang berkembang bahwa kepercayaan lemah yang ada antara orang-orang China dan Partai Komunis China mulai berantakan, yang dapat menyebabkan runtuhnya kohesi sosial," kata Singleton.