Presiden Jokowi menginginkan Indonesia mengurangi impor kedelai. Gayung bersambut, Badan Pangan Nasional punya solusinya.

Agar petani tertarik menanam kedelai, maka pemerintah menyiapkam off taker alias pembeli siaga. Tentu saja dengan harga yang bagus.

Seperti disampaikan Kepala Badan Pangan Nasional/National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi, pemerintah siap memborong kadelai petani dengan harga minimum Rp10 ribu per kilogram (kg). 

Dengan harga yang bagus, diharapkan bisa mendongkrak minat petani untuk menanam kedelai. Demi mengurangi impor.

"Ada juga harga pembelian minimum ke petani yang tanam kedelai, sehingga petani-petani saudara kita kalau tanam ada keuntungan. Kalau tanam untung, nggak usah diminta, pasti sedulur-sedulur petani pasti nanam," kata Arief, Jakarta, Selasa ()20/9/2022)0.

Kalau tak ada aral, lanjutnya, off taker atau pembeli pasti dari hasil panen kedelai itu, adalah perum Bulog dan BUMN pangan yakni ID Food, bersama dengan anak usahanya.

"Hari ini harga CBOT Chicago Board itu, kalau di-rupiahkan sekitar Rp7.700 per kg. Sedangkan kita maunya sekitar Rp10 ribu per kg, kita beli di petani. Itu nanti kita lihat dan ini harus segera karena kita mau dorong Indonesia produksi kedelai seperti beberapa tahun lalu," kata Arief.

Dia mengatakan, produksi kedelai dalam negeri, saat ini, tidak lebih dari 250 ribu ton per tahun. Jumlah tersebut sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan kedelai untuk konsumsi dalam negeri yang mencapai 2 juta ton setahun.

Arief optimistis, Indonesia bisa memproduksi kedelai hingga swasembada seperti di era Orde Baru dengan produksi mencapai 1,5 juta ton dalam setahun. Saat ini, produksi kedelai lokal per hektare hanya mencapai 1 hingga 1,5 ton.

Menurutnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan, produktivitas kedelai bisa ditingkatkan hingga mencapai 3 hingga 5 ton per hektare. Caranya dengan inovasi dan pemanfaatan teknologi.

Arief bilang, kemungkinan kedelai lokal Indonesia menggunakan bibit modifikasi genetika untuk peningkatan produktivitas. Dia menyebutkan bahwa kedelai impor yang selama ini digunakan untuk kebutuhan konsumsi di Indonesia merupakan kedelai dengan benih GMO (genetically modified organism).

Selanjutnya, pemerintah melalui Kementerian Pertanian akan melakukan penanaman kedelai hingga 600 ribu hektare yang dilakukan secara bertahap. Untuk tahap awal akan dilakukan penanaman di 350 ribu hektare lahan.