Transaksi aset kripto seiring “musim dingin kripto atau cryptowinter” terus merosot, warning bagi calon pedagang aset kripto.

Bagaimana tidak, jumlah transaksi aset kripto tercatat terus menurun, meski jumlah investornya mengalami kenaikan.

Berdasarkan data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), jumlah transaksi aset kripto pada Agustus 2022, hanya mencapai Rp16,9 triliun, atau ambles hingga 80% dibandingkan Agustus 2021 yang mencapai Rp91,99 triliun.

Adapun, nilai transaksi aset kripto dari Januari hingga Agustus 2022  baru mencapai Rp249,3 triliun, rinciannya Januari Rp 42,14 triliun, Februari Rp 41,63 triliun, Maret Rp 46,44 triliun, April Rp 36,91 triliun, Mei Rp 24,86 triliun, Juni Rp 20 triliun, Juli Rp 20,4 triliun, dan Agustus Rp 16,9 triliun.

Sedangkan, investor terdaftar sampai Agustus 2022 mencapai 16,1 juta atau masih bertambah 541.085 selama Agustus 2022.

Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Pasar Bappebti, Tirta Karma Senjaya mengatakan, tren transaksi mengalami penurunan karena pasar sedang bearish. 

Namun, menurutnya hal itu tak hanya dialami oleh pedagang aset kripto saja, namun juga start-up di bidang lainnya.

Hampir semua terjadi di perusahaan-perusahaan marketplace, Shopee juga. Sehingga masing-masing efisienkan untuk fokus ke operasional inti dulu, tunda program yang side-nya termasuk SDM PHK,” kata Tirta, dikutip dari Investor Daily, Senin (26/9/2022).

Namun, Tirta optimis pasar kripto ke depannya masih akan cemerlang. “Siklusnya 4 tahunan BTC kan memang lagi down, baru next 3 year up,” ucap Tirta.