Tokyo sendiri memiliki hubungan yang kompleks dengan Moskow bahkan sebelum serangan ke Ukraina. Kedua belah pihak belum menandatangani perjanjian damai pasca-Perang Dunia II dan juga bersengketa terkait beberapa kepulauan yang saat ini dikuasai Rusia

Jepang mengusir seorang pejabat senior Rusia yang ditempatkan di negara itu. Ini merupakan langkah balasan setelah sebelumnya Moskow juga mengusir diplomat Tokyo atas tuduhan mata-mata.

Pada hari Selasa (04/10/2022), Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka akan mengusir seorang konsul Rusia di kota utara Sapporo. Ini, kata Jepang, tindakan yang sesuai dengan tindakan Moskow.

"Pemerintah Jepang mengumumkan satu konsul dari kantor konsulat jenderal Rusia di Sapporo persona non grata, dan menuntut agar orang tersebut meninggalkan Jepang dalam enam hari, yaitu pada 10 Oktober," kata pemerintah dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP.

"Duta Besar Rusia telah dipanggil dan diberitahu tentang keputusan tersebut," tambahnya.

Langkah ini sendiri dilakukan setelah sebelumnya Rusia menahan seorang diplomat Jepang yang berbasis di kota timur Vladivostok. Jepang menyebut langkah itu terkesan menekan diplomat itu dan menuntut permohonan maaf.

Pekan lalu, Juru Bicara pemerintah Hirokazu Matsuno mengatakan bahwa diplomat yang ditahan Rusia itu ditutup matanya ditekan pada kedua tangan dan kepalanya sehingga dia tidak dapat bergerak saat ditahan. Diplomat itu juga disebut diinterogasi dalam sebuah wawancara yang arogan.

"Jepang sangat memprotes tindakan yang tidak dapat dipercaya ini," ujarnya.

Rusia menganggap Jepang sebagai negara 'bermusuhan. Status ini juga dijatuhkan pada semua negara Uni Eropa, Amerika Serikat dan sekutunya, termasuk Inggris dan Australia. Pasalnya, seluruh negara ini telah menentang langkah Moskow dalam menyerang Ukraina serta menjatuhkan sanksi pada Negeri Beruang Putih.

Tokyo sendiri memiliki hubungan yang kompleks dengan Moskow bahkan sebelum serangan ke Ukraina. Kedua belah pihak belum menandatangani perjanjian damai pasca-Perang Dunia II dan juga bersengketa terkait beberapa kepulauan yang saat ini dikuasai Rusia.