CEO Alphabet dan Google Sundar Pichai sebelumnya sudah memperingatkan karyawan tentang tantangan dan ketidakpastian ekonomi yang akan dihadapi perusahaan. Ia pun meminta karyawan untuk meningkatkan produktivitas

Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaan teknologi masih belum berhenti. Terbaru, Alphabet yang merupakan perusahaan induk Google kabarnya akan merumahkan sekitar 10.000 karyawan yang berperforma buruk.

The Information melaporkan Google baru saja meluncurkan sistem peringkat dan rencana peningkatan kinerja bernama Googler Reviews and Development (GRAD).

Lewat sistem baru ini, manajer di Alphabet diminta memilih 6 persen karyawan yang dianggap memiliki performa buruk. Angka ini lebih tinggi dari sistem sebelumnya yang meminta manajer untuk mengidentifikasi 2% karyawan yang berperforma buruk.

Jumlah itu setara dengan 10.000 karyawan. Alphabet sendiri saat ini memiliki sekitar 187.000 pegawai, seperti dikutip dari Forbes, Kamis (24/11/2022).

Dengan sistem baru ini, Alphabet bisa mengurangi jumlah bonus dan opsi saham yang diberikan kepada karyawan. Menurut data yang didaftarkan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat, rata-rata karyawan Alphabet membawa pulang USD 295.884 per tahun, 70 persen lebih tinggi ketimbang kompensasi yang diterima karyawan Microsoft.

Alphabet sendiri mengalami beberapa tantangan tahun ini, mulai dari efek pandemi sampai inflasi yang meroket. Pada kuartal ketiga tahun ini, profit perusahaan turun hingga 27 persen  dibandingkan tahun sebelumnya.

CEO Alphabet dan Google Sundar Pichai sebelumnya sudah memperingatkan karyawan tentang tantangan dan ketidakpastian ekonomi yang akan dihadapi perusahaan. Ia pun meminta karyawan untuk meningkatkan produktivitas.

Dalam beberapa bulan terakhir, banyak perusahaan teknologi lain yang juga mengumumkan PHK. Sebut saja Amazon yang akan memberhentikan 10.000 karyawan, lalu Meta yang memberhentikan 11.000 karyawan.

Lalu ada Twitter, yang setelah dibeli Elon Musk langsung memangkas setengah dari total tenaga kerjanya. Twitter juga ditinggal ratusan karyawan yang tidak ingin menuruti ultimatum Musk untuk bekerja lebih intens.