Hal ini terjadi karena masih banyaknya masyarakat Indonesia yang menginginkan keuntungan cepat sehingga mudah tergiur

Investasi bodong alias ilegal masih marak terjadi di Indonesia. Modusnya, mereka menawarkan investasi dengan imbal meraup hasil yang besar dalam waktu singkat.

Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengungkapkan, kerugian akibat investasi bodong terus meningkat setiap tahunnya. Dalam 10 tahun terakhir kerugian mencapai Rp88 triliun.

"Perlu diedukasi masyarakat ini biar tahu, kerugian investasi ilegal ini Rp 88 triliun dalam waktu 10 tahun terakhir," kata Tongam di Jakarta.

Dia mencontohkan bahkan kasus Koperasi Pandawa di Depok, Jawa Barat menelan kerugian uang masyarakat hingga Rp 3,8 triliun. Menurut Tongam hal ini terjadi karena masih banyaknya masyarakat Indonesia yang menginginkan keuntungan cepat sehingga mudah tergiur dengan tawaran investasi ilegal ini.

"Banyak yang serakah, tidak mensyukuri yang ada, yang diharapkan keuntungan besar dalam waktu yang cepat," jelas dia.

Oleh karena itu pihaknya akan terus memberikan sosialisasi dan literasi kepada masyarakat terkait penipuan-penipuan mengenai investasi, termasuk financial technology (Fintech) bodong. Padahal, kata dia, sejatinya investasi diharapkan mampu memutar roda perekonomian, bukan malah merugikan.

Ke depan, Satgas Waspada Investasi bersama 13 Kementerian dan Lembaga akan mengencarkan edukasi dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat agar terus waspada terkait penipuan-penipuan terkait investasi.

"Kita edukasi ke masyarakat waspadalah kalau ada penawaran-penawaran ini," katanya.