Miliarder yang kini pemilik saham jejaring sosial twitter ini menambahkan, penguat mRNA awalnya baik-baik saja, namun ketika dirinya mendapat suntikan kedua, terasa menghancurkan

Lonjakan kasus Corona Virus Desease 2019 atau COVID-19 di China membuat beberapa negara mulai sibuk memberikan vaksin booster kedua kepada masyarakatnya. Bersamaan dengan kebijakan tersebut, muncul kontroversi terkait efek samping booster COVID-19 kedua yang sangat kuat. 

Bahkan Chief Executive Officer (CEO) Tesla dan SpaceX, Elon Musk mengatakan, efek yang dirasakannya saat melakukan booster kedua, dirinya merasa seperti sekarat selama beberapa hari yang tak tertahankan.

“Saya mengalami efek samping yang besar dari suntikan penguat kedua saya. Saya merasa seperti sekarat selama beberapa hari. Mudah-mudahan tidak ada kerusakan permanen, tapi saya tidak tahu,” kata Elon Musk yang memang telah berulang kali mengkritik soal pandemi COVID-19, seperti dilansir Foxbusiness.

Mengingat pengalamannya yang bermasalah dengan dosis booster kedua, Elon Musk bercerita, "Penguat mRNA pertama baik-baik saja, tetapi yang kedua menghancurkan saya."

Ditambahkannya, efek parah juga dialami sepupunya yang masih muda dan dalam kondisi kesehatan yang prima. Ia kemudian mengalami kasus miokarditis yang serius. Radang jantung memang terdaftar sebagai kemungkinan efek samping dari beberapa vaksin virus COVID-19. 

“Dia harus pergi ke rumah sakit,” tambah Musk.

Miokarditis adalah penyakit yang ditandai dengan peradangan pada otot jantung atau miokardium. Fungsi dari otot jantung adalah memompa darah masuk dan keluar dari jantung ke seluruh bagian tubuh.

Jika otot jantung meradang, darah tidak akan terpompa dengan baik sehingga menyebabkan gangguan seperti detak jantung tidak teratur, kesulitan bernapas dan pada tingkat yang lebih berat bisa mengakibatkan pembekuan darah, serangan jantung, stroke, atau kerusakan jantung.

Mengutip situs Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, kasus miokarditis adalah risiko langka bagi mereka yang menerima vaksin mRNA COVID-19.

“Kasus miokarditis atau perikarditis jarang terjadi dan paling sering terjadi pada remaja dan pria dewasa muda, berusia 16 tahun ke atas, dalam waktu 7 hari setelah menerima dosis kedua vaksin mRNA COVID-19 (Pfizer-BioNTech dan Moderna). Telah ada tapi bukan pola pelaporan serupa yang diamati setelah menerima Janssen COVID-19 Vaccine (Johnson & Johnson),” kata CDC di situs web-nya.

Dalam postingan berikutnya, Musk menjelaskan, bukan pilihannya untuk mendapatkan booster kedua tetapi merupakan persyaratan untuk mengunjungi lokasi Tesla di Berlin, Jerman. 

“Diperlukan untuk mengunjungi Tesla Giga Berlin. Bukan pilihan saya,” ujarnya.

Di post lain, Musk menjelaskan, dia tidak memiliki masalah dengan menerima vaksin awal Johnson & Johnson atau penguat mRNA pertama. 

“Saya punya OG C19 sebelum vaksin keluar dan pada dasarnya flu ringan. Kemudian vaksin J&J tanpa efek buruk, kecuali lengan saya sakit sebentar,” cuitnya.

Miliarder yang kini pemilik saham jejaring sosial twitter ini menambahkan, penguat mRNA awalnya baik-baik saja, namun ketika dirinya mendapat suntikan kedua, terasa menghancurkan. 

Postingan Musk tersebut merupakan tanggapan atas tweet Laporan Rasmussen yang melaporkan sekitar 12 juta orang mungkin mengalami efek samping utama setelah mendapatkan vaksin.

Sementara CEO Pfizer, Albert Bourla menghindari pertanyaan menantang tentang kemanjuran vaksin perusahaannya selama pertemuan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, setelah pengakuan Elon Musk tentang efek samping vaksin COVID itu. Bourla lalu menjawab dengan pernyataan seperti ‘Terima kasih banyak’ dan ‘Semoga harimu menyenangkan’ tetapi tidak mau menanggapi pertanyaan apa pun.

Kontroversi tentang efek negatif vaksinasi COVID menyebar ke seluruh dunia. Di India, pemerintah setempat menegaskan kembali efek dari berbagai vaksinasi COVID-19, tetapi menolak laporan berdasarkan permintaan hak atau informasi dari Indo Asian News Service (IANS) mengenai potensi efek samping dari suntikan ini. Pemerintah menyebutnya ‘kurang informasi’ dan berisi informasi ‘salah’.

Dalam pernyataannya pemerintah setempat menyebutkan, serupa dengan semua vaksin lainnya, berbagai vaksin COVID-19 dapat menyebabkan efek samping ringan seperti nyeri di tempat suntikan, nyeri, sakit kepala, kelelahan, mialgia, malaise, pireksia, menggigil, dan arthralgia.

“Jarang, sejumlah kecil orang mungkin menderita akibat buruk yang serius tergantung pada faktor risiko tertentu,” kata pernyataan pemerintah.

CDC AS terus merekomendasikan vaksinasi COVID-19 untuk semua orang yang berusia 6 bulan ke atas. Komite Penasihat Praktik Imunisasi (ACIP) dan CDC telah menentukan bahwa manfaatnya seperti pencegahan kasus COVID-19 lebih besar daripada risiko miokarditis dan perikarditis setelah menerima vaksin mRNA COVID-19.