Secara mengejutkan posisi aktivitas manufaktur China mampu bertahan di zona pertumbuhan di sepanjang bulan Mei lalu.

Rilis data indeks aktivitas manufaktur (sering disebut dengan singkatan PMI)  China oleh lembaga swasta akhirnya dilakukan pagi ini, Senin (3/6). Rilis data yang mengukur aktivitas industri di negeri dengan perekonomian terbesar kedua di dunia menunjukkan masih terjadinya pertumbuhan pada industri China.

Laporan lebih rinci menyebutkan, posisi indeks PMI yang untuk sepanjang bulan Mei lalu di kisaran 50,2, sementaradama survey sebelumnya oleh otoritas China justru dilaporkan berada di kisaran 49,4.  Untuk dicatat, angka di bawah 50 menunjukkan terjadinya kontraksi dan sebaliknya, angka di atas 50 mencerminkan terjadinya pertumbuhan atau ekspansi.

Dengan mampunya indeks PMI China ini bertahan di atas 50, maka kinerja perekonomian secara keseluruhan dinilai masih belum terlalu rawan. Oleh karenanya investor di  bursa saham Asia langsung memberikan respon atas rilis data yang agak mengejutkan ini.  Pantauan terkini menunjukkan, gerak indeks di bursa saham utama Asia yang sebelumnya telah dengan mantap menuruni tangga koreksi muram, kini mulai beralih mixed.

Gerak turun indeks di bursa saham Jepang bahkan terpantau telah berkurang, sementara indeks KOSPI di bursa saham Korea Selatan mampu berbalik dengan melonjak tajam setelah di awal sesi perdagangan pagi sempat terpukul di zona koreksi.  Lapoiran terkait sebelumnya juga menyebutkan, sejumlah kalangan yang mulai mengantisipasi gerak turun lebih lanjut pada indeks di bursa Asia dengan kekhawatiran runtuhnya indeks PMI China di zona kontraksi.

Sentimen dari tensi dagang yang semakin memanas antara AS dengan China dikhawatirkan akan memukul cukup dalam kinerja industri di China. Bila pukulan di industri China cukup signifikan, maka dengan sendirinya kinerja perekonomian China secara keseluruhan akan menatap  suram  dengan beban perang dagang dengan AS.

Meski demikian, data yang lumayan mengejutkan dan menghibur dari  indeks PMI China ini masih akan diuji kerentanannya oleh rilis data lain, hingga gerak indeks yang mampu beralih mixed diyakini masih cenderung bersifat temporer.  Sekedar pantauan terkini, penurunan indeks Nikkei (Jepang) kini telah  tinggal 0,96% untuk berada di posisi 20.403,67, sementara indeks KOSPI  berbalik melonjak tajam 0,72% untuk berada di kisaran 2.056,42. Sedangkan indeks ASX 200 (Australia) tercatat masih melemah 0,75% untuk berada di posisi 6.348,7.