Investor di Asia terlihat masih menyikapi dengan hati-hati serangkaian sentimen terkini yang hadir.

Sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (7/6) di bursa saham utama Asia akhirnya ditutup dengan gerak indeks di zona positif.  Rentang kenaikan terbaqtas mencermonkan sikap  Investor di Asia  yang berhati-hati dalam merespon serangkaian sentimen terkini yang tesedia.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya,  sentimen yang beredar hingga kini yang masih didominasi oleh perkembangan terkini dari perundingan dagang AS-Meksiko, di mana sejumlah  kabar menyebutkan pihak Meksiko mencoba menyesuaikan diri untuk mengakomofir tuntutan Presiden Trump menyangkut dengan arus imigrasi. Laporan juga menyebuktan bahwa sangat mungkin pemerintahan Trump akan menunda penaikkan tarif masuk atas produk sala Meksiko bila jalannya  perundingan terbukti menuai hasil mengesankan.

Sentimen tersebut akhirnya semakin menambah sentimen positif sebelumnya yang telah datang dari keputusan The Fed untuk membuka lebar peluang menurunkan suku bunga acuan.  Namun serangkaian sentimen yang berdatangan tersebut terlihat hanya mampu mengangkat indeks Wall Street dalam rentang yang tidak terlalu meyakinkan hingga investor di Asia belum melihat sebagai sentimen yang meyakinkan.  Gerak indeks di bursa Asia  akhirnya cenderung terjebak di rentang terbatas dalam menjalani sesi perdagangan penutupan pekan.

Hingga ditutupnya sesi perdagangan,   indeks Nikkei (Jepang)  menguat 0,53% untuk berada di posisi 20.884,71, sementara indeks ASX 200 (Australia) naik tajam 0,95% untuk menjangkau posisi 6.443,9, serta indeks KOSPI (Korea Selatan) yang beranjak positif 0,16% untuk berada dikisaran 2.072,33. 

Sementara laporan dari pasar valuta menunjukkan, gerak nilai tukar mata uang Asia yang cenderung melemah namun dalam rentang terbatas. Pantauan terkini menunjukkan, mata uang Asia yang hanya menyisakan Ringgit Malaysia yang mampu membukukan penguatan tajam di sesi perdagangan kali ini. Sementara nilai tukar mata uang China, Yuan terpantau mencoba bertahan di zona penguatan tipis dan rentan untuk beralih ke zona pelemahan mengkkuti mata uang Asia lainnya.

Sentimen dari tertahannya indeks Dolar AS yang kini berada di kisaran 97-an, terlihat tak mampu mengangkat nilai tukar mata uang Asia akibat sentimen internal yang masih kurang menguntungkan, sepeti yang sedang mendera Peso Filipina dan Rupee India.