Investor semakin mengekspektasikan penurunan suku bunga oleh The Fed menyusul buruknya data tenaga kerja terkini.

Menutup sesi perdagangan akhir pekan ini, Jumat (7/6), indeks  bursa saham Wall Street melompat sangat tajam untuk sekaligus membukukan kenaikan tertajam mingguan dalam 6 bulan terakhir. Senimen yang melatari lonjakan indeks Wall Street di akhir pekan kali ini datang justru  dari rilis data tambahan tenaga kerja yang buruk.

Laporan lebih lanjut menyatakan, perekonomiuan AS yang hanya menambahkan 75.000 tenaga kerja pada bula Mei lalu, atau jauh di bawah ekspektasi pasar yang di kisaran 180.000. Dengan buruknya kinerja penyerapan tenaga kerja yang terjadi, investor meyakini akan menjadi bekal yang cukup bagi The Fed atau bank sentral AS untuk segera menurunkan suku bunga acuan sebagaimana telah disinyalkan dengan sangat kuat dalam beberapa waktu terakhir.

Sentimen dari spekulasi penurunan suku bunga tersebut akhirnya membuat investor melanjutkan tekanan  beli hingga melonjakkan indeks lebih tinggi. Hingga sesi perdagangan ditutup, indeks DJIA melompat tajam 1,02% untuk berakhir di posisi 25.983,94, sementara indeks S&P 500 melonjak 1,05% untuk terhenti di kisaran 2.873,34, serta indeks Nasdaq yang melambung 1,66% untuk terhenti di posisi 7.742,1.

Gerak indeks secara keseluruhan terlihat cukup stabil  dan meyakinkan menapak zona penguatan di sepanjang sesi perdagangan.  Selain rilis data ketenaga kerjaan yang buruk, sentimen positif bagi Wall Street juga datang dari pernyataan positif Presiden AS Donald Trump terkait dengan peluang besar tercapainya kesepakatan dagang dengan Meksiko.  Pelaku pasar kini semakin teryakinkan bahwa perang dagang AS dengan Meksiko akan terhindar sebagaimana terjadi antara AS dengan China.

Pada pasar valuta,  rilis data muram menyangkut ketenaga kerjaan akhirnya semakin memukul posisi indeks Dolar AS. Nilai tukar Dolar AS akhirnya tertekan dalam rentang yang sangat tajam  terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Posisi terkini indeks Dolar AS tercatat berada di kisaran 96,56, sementara pada sesi beberapa hari sebelumnya telah sempat stabil di atas kisaran 98-an. Melemah tajamnya posisi indeks Dolar AS ini sekaligus mencerminkan  gerak balik penguatan secara sangat signifikan pada sejumlah mata uang utama dunia.