Investor terlihat mencoba memanfaatkan pernyataan pejabat Arab terkait dengan perpanjangan kesepakatan pemangkasan produksi untuk berbalik melakukan tekanan beli temporer.

Sesi perdagangan penutupan pekan ini, Jumat (7/6) diwarnai kejutan dari pasar minyak dunia. Laporan menyebutkan, sentimen yang menyemburkan harapan dari pernyataan pejabat Arab Saudi yang kini menjadi faktor pendorong berbalik melonjaknya harga minyak  dalam kisaran yang sangat tajam.

Pantauan terkini menunjukkan, harga minyak yang ditutup melompat fantastis 2,7% untuk berada di posisi $53,99 per barel (untuk jenis WTI). Laporan menyebutkan gerak naik tajam kali ini memanfaatkan mommentum pernyataan pejabat Arab Saudi yang sedang berada di Rusia yang menyatakan bahwa perpanjangan kesepakatan pemangkasan produksi akan dilakukan. Pejabat Arab tersebut juga menyatakan, sementara kesepakatan di antara anggota OPEC (organisasi kartel minyak dunia yang berada di bawah kendali Arab Saudi) dengan mudah tercapai, pihaknya mengupayakan perpanjangan kesepakatan dengan negara produsen besar non-OPEC seperti Rusia.

Pernyataan tersebut akhirnya dijadikan pijakan oleh investor untuk dengan cepat berbalik melakukan tekanan beli hingga meroketkan harga minyak secara mengejutkan.  Investor bahkan    terlihat dengan mudah menepiskan sentimen muram dari rilis data ketenaga kerjaan AS yang kini telah memantik spekulasi bahwa Bank sentral AS akan dengan lebih cepat untuk berbalik menurunkan suku bunga.

Tinjauan teknikal sebelumnya menunjukkan, gerak harga minyak yang kini masih berada dalam tren jual jangka menengah yang cukup solid, dan gerak balik kenaikan yang terjadi di sesi akhir pekan ini masih sangat rawan  untuk berbalik runtuh di sesi perdagangan sepanjang pekan depan. Investor dengan demikian masih perlu berhati-hati dengan gerak naik yang terlalu cepat dan tajam yang terjadi kali ini. 

Sebelumnya serangkaian sentimen memang telah memberikan dukungan yang kuat bagi harga minyak untuk tercegah dari keruntuhan parah. Sentimen dari kebijakan tegas pemerintahan AS di bawah Presiden AS Donald Trump yang mengenakan sanksi pada Venezuela dan Iran (yang merupakan dua negara penting produsen minyak dunia) telah memberikan ruang yang cukup bagi harga minyak untuk bertahan di level tingginya.

Namun deraan sentimen tensi dagang yang berkombinasi dengan lemahnya kinerja perekonomian global telah sempat meruntuhkan harga minyak hingga mendekati level psikologisnya di kisaran $50 per barel.