Kinerja industri China yang dipastikan terpukul membuat permintaan tembaga asal Chili tertekan untuk mengganggu perekonomian Chili.

Imbas dari pecahnya perang dagang AS-China ternyata merambah hingga sebuah negara yang sangat jauh dari China. Adalah Chili, sebuah negara di wilayah Amerika yang selama ini dikenal sebagai produsen terbesar tembaga di dunia. Sebuah laporan terkini  menyebutkan, pihak bank sentral Chili yang telah menurunkan suku bunga acuannya menyusul imbas sangat buruk akibat dari pecahnya perang dagang AS-China.

Lebih jauh disebutkan, China yang selama ini telah menjadi pasar terbesar tembaga asal Chili yang kini terancam mengurangi dalam jumlah besar permintaan produk tembaganya, di mana pada gilirannya akan memukul perekonomian Chili.  Pukulan tensi dagang pada kinerja industri Chija akan dengan sendirinya mengurangi permintaan tembaga dari Chili hingga pada akhirnya mengganggu perekonomian Chili secara keseluruhan. Dalam sebuah rilis yang beredar, pihak bank sentral Chili menyatakan, penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 2,5% yang kini diperlukan guna menyesuaikan situasi perekonomian terkini negeri itu.

Bank sentral juga menyebut, imbas dari tensi dagang AS-China yang memaksa  untuk memangkas target pertumbuhan ekonomi Chili menjadi sebesar 2,7% hingga 3,5% untuk sepanjang tahun ini. Target pertumbuhan ini tercatat menurun dibanding target yang telah ditetapkan sebelumnya yang berada di kisaran 3% hingga 4%.

Langkah yang diambil bank sentral Chili ini dinilai mengejutkan pelaku pasar, mengingat dalam sejumlah survey sebelumnya investir memperkirakan bank sentral akan menahan besaran suku bunga acuan.  Namun keputusan bank sentral memangkas suku bunga dalam rentang yang cukup tajam dan diklaim sebagai diambil secara bulat oleh seluruh pimpinan bank sentral.

Tensi dagang AS-China, memang bukan masalah sepele, terlebih bagi sejumlah negara yang selama ini telah terlanjur menjadikan China sebagai mitra ekonomi terbesarnya. Untuk dicatat, sebelumnya Australia yang juga harus bergulat dengan kinerja pertumbuhan yang sangat lambat, dan salah satu kontributor perlambatannya adalah gangguan yang mendera perekonomian China akibat tekanan tensi dagang.

Australia juga telah terlanjur menjadikan China sebagai pasar terbesar ekspornya berkat kemajuan ekonomi China yang berpadu dengan jumlah penduduk yang sangat besar.